"Lari lari lari, tendang dan berlari, berjuanglah, Tsubasa, pahlawan kita."

Bila anda membaca penggalan kalimat di atas sambil bernyanyi, maka besar kemungkinan anda adalah anak-anak yang saat SD atau SMP-nya berada di periode tahun 2000-an awal. Karena kalimat di atas adalah bagian lagu dari serial tv anime berjudul “Captain Tsubasa”. Bercerita tentang anak kecil bernama Tsubasa Ozora yang bermimpi menjadi pesepakbola dunia dan membawa negaranya Jepang menjadi juara piala dunia.

Sebenarnya saat itu banyak anime lain yang bertema sepakbola juga, namun rasanya tidak ada yang lebih baik dan sefenomenal anime Captain Tsubasa.

Adalah seorang kreator bernama Yoichi Takahashi yang membuat manga Captain Tsubasa pada tahun 1981. Cerita yang menarik dan menginspirasi mampu membuat manga tersebut diterima luas masyarakat Jepang. Sehingga di tahun 1983 anime Captain Tsubasa tampil di layar Animax dan TV Tokyo. Disusul seri keduanya tahun 1994 dan yang ketiga tahun 2002.

Captain Tsubasa bukan lagi dianggap sebagai serial TV biasa, namun sudah menjadi titik awal prestasi sepakbola Jepang. Dulu sebelum tahun 1988, sepakbola Jepang bukanlah jagoan di pentas Asia apalagi dunia. Namun di tahun 1992 ketika Jepang terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Piala Asia, di saat itu pula timnas sepakbola Jepang berhasil tampil sebagai juara setelah mengalahkan Arab Saudi 1- 0.

Benar sekali, hanya selang sembilan tahun setelah anime Captain Tsubasa disiarkan, Jepang menjadi juara Asia. Enam tahun setelahnya Jepang lolos untuk pertama kali ke Piala Dunia.

Skuat Jepang di piala asia 1992, adalah anak-anak berumur di bawah 16 tahun ketika anime Captain Tsubasa pertama kali disiarkan waktu itu. Besar kemungkinan pengaruh Tsubasa melekat kuat di benak anak-anak generasi tersebut, karena mereka adalah generasi pembaca komik dan serial TV kapten yang dalam ceritanya selalu memakai nomor punggung 10 itu.

Mungkin bola basket Indonesia dapat terinspirasi membuat hal yang serupa seperti Captain Tsubasa, namun tentu temanya bola basket bukan sepakbola. Generasi anak-anak Indonesia di bawah umur 10 tahun saat ini adalah sebagian besar masih penikmat serial tv animasi. Buktinya, serial animasi yang bercerita tentang dua saudara kembar berkepala botak dengan logat melayu saja sangat digemari anak- anak Indonesia.

Bila dilihat, Iklim bola basket Indonesia di kelompok umur atau sekolah saat ini sebenarnya hampir sama dengan jalan cerita yang ada pada Captain Tsubasa. Sekarang kompetisi bola basket antar sekolah SMP, SMA bahkan SD pun sudah banyak dan diselenggarakan sangat meriah di berbagai kota di Indonesia seperti DBL contohnya.

Dilanjutkan pada jenjang perkuliahaan ada Liga Mahasiswa yang menjadi salah satu jalan masuk ke tim-tim IBL untuk direkrut menjadi pemain. Penjenjangan kompetisi dari semi profesional hingga profesional tadi akan berujung pada keluaran berupa skuat tim nasional.

Memang pada akhirnya semuanya adalah demi Indonesia, layaknya cerita Tsubasa yang mewakili sekolah Nainkatsu dan musuh abadinya Hyuga dari Toho yang dipertemukan untuk bahu membahu bersama saat menjadi rekan satu tim di timnas sepak bola Jepang.

Sebenarnya setelah kemunculan Captain Tsubasa di televisi-televisi nasional kita saat itu, ada juga serial TV anime tentang bola basket dari Jepang yang menyita penggemar basket waktu itu berjudul Slam Dunk. Dengan fokus ceritanya berpusat pada tokoh berambut merah bernama Hanamichi Sakuragi. Disusul lagi dengan serial TV drama asal Taiwan bernama My MVP Valentine atau ketika di pasar Indonesia dikenal dengan nama MVP Lover. Serial TV tersebut dibintangi boyband yang kondang di Taiwan bernama 5566. Dua serial tv tentang basket di atas sama-sama menyita banyak perhatian anak kecil sampai remaja saat itu.

Tapi andai berencana membuat serial tv animasi, kartun atau film tentang olahraga basket baiknya menjadikan Captain Tsubasa sebagai acuan, karena di dalamnya minim humor dan drama yang justru menjadi kelebihan Captain Tsubasa itu sendiri. Bahkan, seorang peraih gelar eropa dan juara dunia sekaliber Fernando Torres dalam sebuah wawancara bercerita bahwa Captain Tsubasa adalah salah satu inpirasinya dalam menekuni sepak bola.

Sekian tahun lamanya basket Indonesia maksimal selalu menjadi yang nomor dua di Asia Tenggara di bawah Filipina. Tentu banyak penggemar basket ingin Indonesia menjadi yang nomor satu di Asia Tenggara dan mungkin saja masuk setidaknya tiga besar atau lima besar Asia. Tidak ada salahnya kan membuat film atau serial tv yang bercerita tentang basket Indonesia dengan tujuan mengenalkan bola basket lebih luas lagi sekaligus sebagai dorongan dan inspirasi untuk berprestasi sampai ke tingkat nasional bahkan internasional.

Ketika film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) seri pertama muncul, banyak remaja laki-laki yang mendadak menjadi puitis karena melihat sosok tokoh Rangga. Saat film 5cm hadir, bersamaan setelah itu banyak orang yang tiba-tiba ingin mendaki gunung serta menjelajah tempat-tempat wisata alam baru di Indonesia. Pada tahun 1986 film Hollywood berjudul Top Gun dengan bintangnya Tom Cruise sukses di pasaran. Setelah itu akademi angkatan udara Amerika Serikat mengalami kenaikan pendaftar penerbang di lembaganya mencapai 500 persen, tentu mayoritas mereka ingin jadi pilot pesawat tempur legendaris F-14 seperti tokoh Maverick di filmnya.

Ketiga contoh hal di atas menyiratkan bahwa film, serial TV, atau apapun jenisnya sudah terbukti memberikan inspirasi nyata bagi penontonnya. Tentu dalam hal ini adalah inspirasi yang sifatnya positif. Dengan adanya animator-animator dan sutradara film Indonesia yang kemampuannya tidak perlu diragukan lagi, Andai mereka bekerjasama membuat film atau serial TV tentang basket Indonesia yang digarap dengan baik dan serius. Rasanya 10 sampai 15 tahun lagi Timnas Basket kita sudah bisa jadi rajanya basket di Asia Tenggara dan Asia. Mungkin saja, kan? Masih optimis, kan? (*)

Foto: captaintsubasa.wikia.com

Komentar