TIMNAS

Nike memiliki “dapur” desain sepatu bernama Nike Innovation Kitchen. Di sana, berjajar penggawa-penggawa terpilih yang bertugas untuk mendesain sepatu sesuai dengan kebutuhan pasar dan atlet Nike. Di antara para desainer yang bekerja disana, nama Eric Avar akan selalu punya tempat tersendiri bagi penikmat sepatu basket. Ia adalah pria dibalik sepatu-sepatu basket fenomenal besutan Nike.

Ia bergabung dengan Nike sejak lulus SMA, tepatnya 1990. Darah kreatif dan desain menurun dari orang tuanya. Ayah Avar berprofesi sebagai teknisi mesin sementara sang ibu adalah seorang seniman. Pria berambut botak ini memiliki hobi berolahraga. Oleh karena itu, ia memiliki penggambaran lebih di bidang desain produk yang berhubungan dengan olahraga. Lalu ia pun mantap memilih profesi sebagai desainer sepatu untuk Nike.

Sketsa Nike Air Flight Huarache (1991). Kala itu, ia masih dibawah bimbingan Tinker Hatfield.

 

“Saya bergabung sebagai desainer junior. Waktu itu, saya ikut dalam beberapa proyek pengembangan sepatu lari segala medan dan seri ACG (All-Condition Gear),” ujar Avar kepada DesignBoom 2013 lalu. Proyek terbesarnya sebagai desainer junior, lanjutnya, adalah ketika membantu Tinker Hatfield mendesain Nike Air Flight Huarache.

Diantara belasan karya, Avar menyatakan ada tiga desain sepatu basket tersukses mengutip dari DesignBoom dan Sports Illustrated. “Untuk yang terbaik, saya menyatakan Hyperdunk, Foamposite dan koleksi sepatu Kobe Bryant (Nike Zoom Kobe),” pungkasnya. Sementara untuk lini sepatu lari, Avar menyebut Nike Free. Di proyek tersebut, ia bekerja dibawah naungan Tobi Hatfield, adik Tinker Hatfield.

Ia menyebutkan hal wajib yang harus dilakukan agarjadi desainer yang baik. “Sebagai desainer, kita harus penasaran dan melihat sesuatu dari berbagai sisi. Terus mendengar, melihat, merasa, dan berimajinasi,” katanya. Bagi Avar, desainer juga harus melihat segala sesuatu dari berbagai elemen. “ilmu pengetahuan, teknologi terbaru, estetika, dan performa jadi landasan saya untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik,” imbuh Avar.  

Sketsa Nike Air Max Penny 1 (1995), sepatu untuk Anfernee Hardaway.

 

Perihal mencari inspirasi, desainer kelahiran New York ini lebih memilih area pegunungan. Menurutnya, alam adalah satu-satunya tempat di dunia yang mampu memukaunya. “Saya bisa bergumam ‘wow’ berkali-kali pada alam. Itu jadi desain terindah Tuhan yang sulit ditiru makhluk manapun. Saya suka menghabiskan banyak waktu untuk mendaki gunung,” katanya. Baginya, alam adalah produk desain yang memiliki kegunaan terbaik.

Azas "Less is More" selalu jadi dasar setiap desain sepatunya. Ia beranggapan bahwa konsep minimalisme justru memberikan banyak makna. “ Bila kita terlalu banyak memasukkan elemen pendukung atau menyisipkan terlalu banyak cerita, hasilnya justru berlebihan dan tidak efektif” pungkas Avar pada Sports Illustrated.

Di era modern, nama Avar semakin mengudara setelah proyek Nike Zoom Kobe XI, sepatu terakhir Kobe Bryant. Bagi sebagian orang, desain sepatu tersebut menginspirasi berbagai sepatu basket yang kini digunakan para pebasket Nike. Warisan cetak biru Nike Zoom Kobe XI hingga kini masih jadi dasar dalam penyusunan sepatu basket lainnya, terutama dari lini Nike Zoom Kobe.

Nike Air Foamposite 1 (1995)

 

Nike Air Flightposite (1999)

 

Nike Air Zoom Huarache 2k4 (2004)

 

Nike Hyperdunk (2008)

 

Nike Zoom Kobe VII (2007)

 

Nike Zoom Kobe IX Elite (2014)

 

Nike Zoom Kobe XI (2018)

Foto: Nike

Komentar