Uji fisik menjadi tantangan yang harus dilewati peserta di hari pertama DBL Camp 2026. Ada serangkaian drill dan tes yang menilai kemampuan fisik peserta pada Selasa (28/4) di DBL Academy Jakarta East.
Tes tersebut mencangkup shuttle run, lane agility lamp, reaction test with balls, sprint, dan yo-yo test. Tes terakhir merupakan metode pengganti beep test yang selama ini digunakan di DBL Camp.
Beep test menjadi tes kebugaran dengan lari bolak-balik 20 meter secara progresif. Para peserta berlari mengikuti bunyi “beep” yang semakin cepat. Tes ini menjadi momok bagi peserta kamp yang diadakan sejak 2008 tersebut.
Baca juga: DBL Camp 2026 Mengembangkan Basket Usia Dini Berbasis Sains
Sementara yo-yo tes diyakini lebih relevan untuk olahraga basket. Tes tersebut lebih mirip dinamika pertandingan basket. Dalam yo-yo tes ini, peserta berlari bolak-balik 20 meter. Tapi ada jeda atau interval.
Metode tersebut seperti permainan basket. Pemain tidak terus menerus berlari. Ada momen istirahat atau pemulihan (recovery). Saat pertandingan basket terjadi di masa transisi offense-defense.
“Yo-yo test itu 20 meter lari plus 5 meter active recovery. Jadi setelah lari, pemain ada waktu jalan bolak-balik sepanjang lima meter ke garis start sebelum mulai lagi,” kata Ibu Zakaria Dwinanda selaku Head Coach DBL Academy.

Matthew Ivander Setiawan tampil menonton. Siswa dari SMA Raffles Christian School Jakarta itu sukses mencatatkan skor tertinggi dari total 135 peserta putra. Ia mencapai level 19 shuttle 4, sebuah pencapaian impresif mengingat ini merupakan pengalaman pertamanya menjalani yo-yo test.
Baca juga: Hal-hal yang Membuat DBL Camp 2026 Berbeda dari Sebelumnya
Matthew mengaku tidak memiliki persiapan khusus menghadapi tes ini. Bahkan, ia belum pernah mencobanya sama sekali sebelumnya. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk tampil maksimal dan mengungguli peserta lain.
“Tes ini lebih relate banget sih daripada beep test. Kalau di basket kan ada intervalnya. Ada saat berhentinya. Ada naik, ada pelan. Kalau di beep test terus-menerus (lari),” kata Matthew yang lolos melalui jalur Road to DBL Camp 2026 itu.
DBL Camp 2026 juga menggunakan sejumlah fasilitas yang berfungsi sebagai alat pengukuran (measurement test) lebih terkini. Yakni Nordbord, Force Frame, dan Force Decks dari Vald Performance. Kehadiran alat-alat ukur itu melengkapi metode pengukuran DBL Camp yang selama ini hanya fokus pada tinggi lompatan dan kecepatan.
Persaingan pun akan semakin ketat dengan diumumkannya daftar Top 50 pada Rabu (29/4). Pada akhirnya, hanya 12 pemain terbaik yang akan terpilih sebagai bagian dari skuad DBL All-Star 2026. (rag)
Foto: DBL Indonesia





0822 3356 3502