IBL

DBL Camp 2026 hadir untuk ke-17 kalinya. Tahun ini diadakan di DBL Academy Jakarta East. Sekaligus empat kali beruntun berlokasi di Jakarta. Pembukaan dan seleksi hari pertama diadakan pada Selasa, 28 Mei 2026.

DBL Camp merupakan pemusatan latihan student athlete terbaik dari seluruh Indonesia. Ada 270 peserta yang terpilih melalui first dan second team kompetisi DBL, Road to DBL Camp, dan pemenang DBL Play Road to DBL Camp.

DBL Camp 2026 berada di lokasi baru yang menjadi cabang dari DBL Academy. Berada di Genova Asya Commercial Area, Jakarta Timur, DBL Academy Jakarta East menjadi cabang keempat akademi basket milik DBL.

Baca juga: DBL Camp 2026 Dimulai! 322 Peserta Berkumpul di Jakarta Garden City

“Pelaksanaan tahun ini istimewa karena peserta akan menjalani serangkaian latihan di tiga lapangan di DBL Academy Jakarta East yang semuanya berstandar FIBA level 1. Yang lebih penting lagi, pelaksanaan tahun ini jadi riset sport science,” kata founder DBL Indonesia Azrul Ananda.

Riset sport science terlihat dengan adanya sejumlah fasilitas yang berfungsi sebagai measurement test dan Vald Performance. Alat-alat yang dimiliki DBL Academy adalah Nordbord, Force Frame, dan Force Decks.

Kehadiran alat-alat ukur itu melengkapi metode pengukuran DBL Camp yang selama ini hanya fokus pada tinggi lompatan dan kecepatan. Nordbord dipakai mengukur kekuatan otot hamstring (kanan-kiri) serta mendeteksi bagian otot yang lebih kuat dan lemah.

Force Frame berfungsi mengukur dan mengetahui kekuatan otot kaki secara isometrik. Alat ini juga mendeteksi adanya perbedaan kekuatan antara otot tubuh bagian kanan dan kiri. Kemudian Force Decks yang berfungsi mengukur tinggi lompatan, tenaga saat mendarat (power landing) dan masa layang (air time).

Baca juga: Hal-hal yang Membuat DBL Camp 2026 Berbeda dari Sebelumnya

“Data-data dari pengukuran itu akan menjadi acuan untuk melihat sejauh mana kekuatan fisik pemain, kebutuhan metode latihan berdasarkan data yang dihasilkan, potensi cedera, hingga efektivitas gerakan. Seperti sebuah laboratorium olahraga,” lanjut Azrul.

Selain pembaruan teknologi, DBL Camp 2026 mengusung metode tes yang lain. Tahun ini Yo-Yo Test menggantikan metode Beep test. Yo-Yo Test diyakini lebih relevan untuk olahraga basket karena skema tes lebih mirip dinamika pertandingan basket.

Dalam Yo-Yo Test ini peserta berlari dengan jeda atau interval. Metode ini layaknya permainan basket dimana pemain tidak terus menerus berlari. Tapia da momen recovery. Misalnya dalam transisi offense-defense.

“Dari sisi fasilitas dan metode pelatihan di DBL Camp ini saya rasa DBL Indonesia terus mengikuti perkembangan apa yang terjadi di dunia internasional. Dan itu baik untuk para peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini,” ujar Keegan Crawford dari World Basketball Academy (WBA) Australia. (rag)

Foto: DBL Indonesia

Komentar