IBL Awards baru saja diumumkan. Sebanyak sembilan penghargaan yang telah melalui proses pemungutan suara untuk para kategorinya telah menemukan pemenangnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, IBL Awards selalu menghadirkan cerita yang menarik untuk dibahas.Â
Satu penghargaan yang sering kami soroti dan sebaiknya dipikirkan ulang adalah ruki terbaik atau Rookie of the Year. Selamat untuk Samuel Sualang dari Satya Wacana Salatiga sebagai pemenang penghargaan ini dan selamat juga untuk semua pemain yang masuk nominasi. Namun, alangkah baiknya, ke depannya, penghargaan ini diberikan tidak untuk musim reguler.
Karena sejujurnya, angka yang diberikan tim kepada para ruki ini benar-benar menyedihkan. Selain Samuel, tidak ada satupun pemain yang bermain lebih dari 100 menit sepanjang musim. Bahkan, hanya Samuel yang bermain di seluruh 20 laga. Oleh sebab itu, gelar ini memang layak diberikan kepada Samuel yang banyak berperan untuk Satya Wacana.
Saran kami, IBL memang harus menyambungkan musim reguler dengan All Indonesian atau liga/turnamen khusus lokal. Baru nanti gelar ruki terbaik bisa diberikan di sana. Kalau diberikan di musim reguler normal di mana ada tiga pemain asing di lapangan ya beraaaatt. Kita akan lihat persaingan pemain dengan rataan statistik tradisional yang tidak sampai angka 5 di mana-mana. Bahkan, untuk yang kali ini, ada yang memiliki rataan 0,9 poin. Penghargaan yang terlalu dipaksakan.Â
Saya rasa banyak pecinta basket di Indonesia adalah pendukung Yudha Saputera. Yudha mungkin salah satu pemain yang tidak punya haters. Pendukung Prawira, Satria Muda, atau Timnas memamg otomatis mendukung Yudha. Tapi di luar itu, karakter dan apa yang Yudha tunjukkan juga berhasil merebut hati publik.Â

Namun, saya rasa, semuanya juga sepakat bahwa kita tidak bisa menyebut Yudha sebagai pemain bertahan terbaik. Yudha pada akhirnya memang menenangkan gelar ini. Tapi memang, dibanding empat kandidat lain, ya tidak ada yang lebih baik dari Yudha. Permasalahannya lebih ke bagaimana nama-nama ini yang masuk ke nominasi.
Seperti kasus ruki, sebaiknya memang penghargaan tidak dipaksakan jika tidak ada yang benar-benar memenuhi kriteria. Karena seperti gelar-gelar individu lainnya, gelar ini akan melekat ke pemain. Muncul di internet saat dicari. Apalagi untuk Yudha, saya rasa tak sekalipun orang membayangkan Yudha akan menang DPOY lebih dulu daripada MVP. Sejak detik ini, semua pemain akan ketakutan saat berhadapan dengan Yudha sebagai defender mereka.Â
Terakhir, IBL baru saja memecahkan rekor di liga basket profesional dunia. Sejauh sata mencari bahkan sampai bertanya ke mana-mana, saya tidak menemukan ada sebuah liga basket profesional yang memberikan penghargaan Sixthman of the Year dan MVP ke pemain yang sama di tahun yang sama! Kalau mungkin ada yang menemukan di liga lain, boleh komentar di bawah ya! Tapi kalau tidak ada, maka satu lagi catatan menarik dari IBL untuk dunia!
Sekali lagi, hormat kami untuk Rio Disi dengan dua gelar tersebut. Ini gelar ketiga beruntun Rio sebagai Sixthman dan pertama untuk MVP. Sangat layak, tapi apakah keduanya perlu bersandingan? Hemat kami, fakta bahwa MVP liga adalah seorang pemain cadangan adalah logika yang sulit dimengerti sekaligus miris.Â

Artinya, tidak ada pemain lokal Indonesia yang lebih baik dari seorang pemain yang datang dari bangku cadangan! Ada 10 starter dari masing-masing tim. Asumsinya 3 pemain asing semua masuk sebagai starter. Maka, ada 20 starter lokal di IBL dan Rio yang datang dari bangku cadangan tetaplah yang terbaik.Â
"Tapi kan Rio emang bagus dari bangku cadangan dan lebih bagus dari semua pemain lokal!" Setuju. Sangat setuju kami. Oleh sebab itu, sebaiknya Rio tidak perlu dimasukkan nominasi Sixthman. Oleh sebab itu, tidak ada Sixthman yang jadi MVP di seluruh dunia di musim yang sama selain di sini. Karena sekali lagi, logikanya memang tidak ketemu. Bagi kami, Rio musim ini adalah MVP, mutlak. Tapi tidak dengan Sixthman, karena ia tidak seharusnya lagi masuk dalam perbincangan ini.
Sama seperti kasus Luka Doncic pernah masuk nominasi Most Improved Player of the Year di 2019-2020 dan menolaknya secara tegas. Ia merasa, ia memang tidak layak masuk ke sana karena progresi karier yang memang seharusnya demikian. Selain itu, ia juga merasa ia bersaing untuk MVP meski akhirnya tidak masuk tiga kandidat terakhir (peringkat 4).Â
Tidak, tidak, kami tidak menyarankan Rio untuk menolak masuk nominasi. Tidak masalah untuk Rio. Bahkan, kalau melihat apa yang ia lakukan, bisa dipertimbangkan juga Rio masuk kandidat DPOY (1,3 steal per gim). Jumlah ini setara dengan Hendrick Yonga yang finis di peringkat dua DPOY. Eh, Yesaya Saudale juga selayaknya dipikirkan masuk kandidat DPOY kalau dasarnya adalah steal dan rebound ya.Â
Ya begitulah setiap tahun. Selalu ada kejutan dari IBL. Bukan IBL memang jika tidak menggebrak. Ingat, masih ada penghargaan individu di final nanti yang harusnya, melihat kebiasaan IBL, akan menjadi kejutan juga. Tidak sabar!
Foto: IBL
Â





0822 3356 3502