IBL

Putra Thailand menjadi salah satu kuda hitam di gelaran basket 5v5 SEA Games 2019. Meski rasanya masih sulit menggeser Filipina dari puncak kekuatan basket Asia Tenggara, apa yang ditunjukkan Thailand di dua gim yang sudah mereka lalui benar-benar luar biasa. Usai menggulung Indonesia di gim perdana 98-76, Thailand kembali menang dari Kamboja di gim kedua dengan skor 83-68.

Menariknya, di gim kedua tersebut, Thailand tampil tanpa pemain andalan mereka, Tyler Lamb. Tyler tampak asik duduk di bangku cadangan sepanjang gim sambil bersorak mendukung rekan-rekannya. Satu hal yang jujur mengejutkan saya adalah fakta bahwa ia berteriak dalam bahasa Thailand. Ia juga tampak berkomunikasi lancara dengan kawan-kawannya menggunakan bahasa Thailand.

Usai gim lawan Kamboja, saya mencoba berbincang dengannya. Tanpa sedikit pun keringat di badan karena dinginnya Mall of Asia Arena ini, Tyler menjawab pertanyaan saya dengan nada bicara yang riang. Pemain bernomor punggung satu ini lantas bercerita tentang banyak hal yang ada di pandangannya.

Halo Tyler, saya lihat statistik Anda hari ini hanya berupa tepukan dan teriakan ya?

Halo kawan! Haha, jangan melakukan hal itu kepada saya dong!

Dalam dua gim ini, Thailand tampil tanpa celah baik saat menyerang atau bertahan. Bagaimana Anda melihat performa Thailand sejauh ini?

Saya rasa Thailand sekarang berada di posisi menjadi salah satu negara dengan basket terbaik di Asia Tenggara. Semua negara tentu ingin mengucapkan hal ini, tapi saya rasa kami sudah berada di sana sekarang.

Perkembangan kami cukup pesat mengingat federasi berhasil membawa beberapa tokoh untuk membuat tim ini jadi lebih baik, seperti kepala pelatih kami, Chris Daleo, dia punya peran besar di sini. Lalu kami memiliki beberapa pemain dari Mono Vampire yang bermain di gim dengan level tinggi di ASEAN Basketball League.

Apa perbedaan terbesar dari SEA Games sebelumnya dan yang sekarang dari kalian?

Saya rasa di SEA Games kali ini, kami punya waktu yang lebih lama untuk mempersiapkan tim, kami punya waktu dua tahun untuk berkembang sejak edisi sebelumnya. Dalam prosesnya, kami juga mengalami banyak kekalahan. Dari Indonesia, saya rasa kami kalah tiga atau empat kali sebelum bisa menang di gim kemarin. Saya rasa ini semua perkara tentang waktu dan bagaimana kita memanfaatkannya. Kami berlatih sangat keras, lalu kami punya pelatih yang baik untuk membantu para pemain berkembang. Saya rasa ini memang waktunya kami bersinar.

Anda juga tinggal di Thailand kan? Bagaimana Anda melihat perkembangan kultur basket di sana sendiri?

Seperti yang saya ucapkan sebelumnya, perkembangannya cukup bagus. Banyak pemain muda yang mulai bermunculan dan mengambil tempat di skuat utama. Sekali lagi, keberadaan pelatih-pelatih asing yang cukup bagus di Thailand membantu ini semua. Saya pribadi ingin membantu Thailand bersaing dan meraih hasil yang lebih baik lagi.

Sebagai pemain naturalisasi, bagaimana Anda melihat tendensi beberapa negara di Asia Tenggara atau bahkan Asia untuk melakukan naturalisasi?

Sebagai informasi tambahan untuk Anda, dii SEA Games kali ini, saya tidak terhitung sebagai pemain naturalisasi. Saya memiliki darah campuran Thailand dan Amerika Serikat. Awalnya, Thailand bahkan berniat untuk membawa serta Moses Morgan dan Freddie Lish, tapi sayangnya tidak jadi.

Bicara naturalisasi, saya rasa itu bukanlah hal yang paling utama. Untuk Asia Tenggara dan Asia, saya rasa akan lebih baik jika mereka berhasil membawa pemain-pemain berdarah campur mereka untuk membela tim nasional.

Berdasarkan pengalaman saya, saya tumbuh tanpa mengetahui budaya Thailand. Lalu, saya memutuskan ke Thailand dan jatuh cinta dengan segala yang ada di sana. Setelahnya, saya rasa merupakan hal yang istimewa bisa mewakili separuh bagian dari saya di ajang internasional seperti sekarang. Sekali lagi, saya rasa semua negara harus mengumpulkan pemain-pemain darah campur mereka untuk membantu perkembangan di negara tersebut.

Dengan apa yang Thailand tunjukkan di dua gim terakhir, apa kalian menyasar medali emas?

Jelas sekali! Satu-satunya alasan saya bermain adalah untuk menang dan meraih hadiah tertinggi.

Jadi, saya bisa bilang bahwa Thailand sama sekali tak gentar dengan tim tuan rumah, Filipina?

Ya, tujuan utama kami datang ke sini adalah untuk meraih medali emas, tidak lain dan tidak bukan. Kami bahkan tidak memikirkan Filipina, kami memikirkan Malaysia yang menjadi lawan kami selanjutnya. Mereka tim kuat dan selalu berkembang dengan baik dari tahun ke tahun. Jadi, kami harus fokus ke Malaysia dulu sebelum bicara Filipina. Namun, sekali lagi, tujuan kami ke sini adalah medali emas, pastikan semua orang tahu hal ini.

Oke, terima kasih atas waktunya Tyler. Good luck bro!

Kapanpun bro! See you around!

Foto: Mei Linda