Hadiah Basket Indonesia
9 months ago


Beberapa waktu lalu, instagram @mainbasket memuat gambar juara Kompetisi Basket Antar-Klub Putri di Bali, Surabaya Fever. Pada unggahan ini, muncul banyak komentar.

Komentar yang bermunculan tidak semata memberi selamat kepada Surabaya Fever. Tetapi lebih banyak yang mengomentari nominal rupiah yang mereka bawa pulang sebagai hadiah menjadi juara. Jumlahnya -relatif- sangat kecil.

Relatif kecil karena memang nilainya sangat kecil. Hanya tiga juta rupiah. Lazimkah?

Pada video di atas dijelaskan mengapa jumlah tersebut terbilang lazim. Uang hadiah bukanlah sesuatu yang benar-benar diincar dalam sebuah kompetisi basket. Sejauh ini, umumnya masih seputar gengsi atau rasa bangga.

Liga-liga olahraga di dunia sebenarnya punya sistematika sendiri dalam memberi hadiah kepada para kontestannya. Semakin besar sebuah liga, biasanya semakin besar pula nominal hadiahnya. Namun juga, ketika liga semakin besar dan hadiah semakin relatif besar, ongkos pengeluaran sebuah tim juga ikut membengkak. Membuat hadiah uang jadi terlihat kecil atau menjadi tak seberapa dibandingkan pengeluaran tim ketika mengikuti kompetisi.

Di era NBL Indonesia (2010-2015), semua tim mendapat "hadiah" uang. Pembagian hadiah ini dibagi menjadi dua periode.

Periode pertama pembagian adalah di musim reguler. Pada periode pertama, semua tim mendapatkan bonus hadiah dari bagi hasil penjualan tiket. Dari 100 persen total pemasukan melalui penjualan tiket di musim reguler, pihak penyelenggara alias NBL Indonesia mendapat porsi paling besar. Tim-tim hanya mendapat porsi kecil saja yang kemudian dibagi dengan 12 tim peserta.

Pada periode pembagian kedua, tim-tim yang mendapat hadiah uang adalah mereka yang lolos ke babak playoff. Pembagian hasil penjualan tiket babak playoff berkebalikan dengan musim reguler. Di sini, liga (NBL Indonesia) mendapat porsi sangat kecil. Di bawah 30 persen. Sementara delapan tim yang lolos playoff mendapatkan sisanya. Namun besaran pembagian berbeda-beda. Tim yang juara mendapat jatah terbesar. Jatah ini mengecil terus dari yang berada di posisi kedua hingga kedelapan.

Format bagi hasil penjualan tiket ini juga diterapkan pada kompetisi IBL 2016 lalu.

Komentar