ABL

Surabaya Fever resmi mundur dari Srikandi Cup pada 25 September 2018 lalu. Fever menarik diri karena pemiliknya ditunjuk oleh PP PERBASI sebagai manajer timnas basket Indonesia untuk SEA Games 2019 Manila. Kini Christopher Tanuwidjaja sebagai pemilik Fever membagi cerita kepada mainbasket.com tentang keputusan tersebut.

Berikut wawancara singkat dengan Christopher Tanuwidjaja:

Bagaimana cerita awal bisa ditunjuk sebagai manajer timnas?

"Sebenarnya saya selalu menolak ketika ditunjuk sebagai manajer timnas. Pada era Ketua Umum Anggito Abimanyu, saya sudah diberi tugas itu dua kali. Saya tolak. Kalau di era Pak Danny (Kosasih) sudah tiga kali saya menolak menjadi manajer timnas.

Kemudian pada Asian Games 2018 kemarin, saya ditemui Pak Danny. Saya kembali diminta menjadi manajer. Beliau menunjuk saya dengan pertimbangan bahwa saya punya koneksi ke luar (negeri). Keikutsertaan saya di ABL juga jadi pertimbangan beliau untuk memberikan tugas ini. Akhirnya pada awal bulan Oktober, saya ditemui di Malaysia. Akhirnya saya setuju untuk menerima tugas ini."

Kenapa selalu menolak ketika diminta jadi manajer timnas? Apa ada alasan spesifiknya?

"Saya itu orangnya idealis. Saya punya pendirian bahwa selama saya punya tim di liga, saya tidak mau pegang timnas. Tentu sebagai pribadi, saya akan cenderung memilih orang-orang sendiri ketika saya menangani timnas. Jujur, ketika seseorang punya tim dan pegang timnas, untuk fair, pasti tidak bisa fair."

Lalu apa hubungannya idealis dengan menarik Surabaya Fever dari Srikandi Cup?

"Nah, itu salah satu syarat yang saya ajukan ketika saya diminta untuk menjadi manajer timnas. Kalau saya bisa meninggalkan tim, saya akan mempertimbangkan untuk menjadi manajer timnas. Jadi saya tanya ke Pak Danny, boleh atau tidak tim saya tidak ikut Srikandi Cup dulu."

Kenapa harus meninggalkan Srikandi Cup?

"Ada bebeberapa alasan. Pertama, pemain Fever itu sudah nyaman dengan timnya. Boleh tanya mereka. Mereka betah di tim ini. Lalu alasan kedua, Fever itu setiap kali bertanding atau mengikuti kejuaraan 80 persen pemainnya sudah yakin menang dan juara. Itu keyakinan setiap pemain Fever. Begitu sebaliknya. Tim yang melawan Fever akan yakin kalau mereka kalah. Saya merasa bahwa semangat untuk berkompetisi rendah.

Dalam empat tahun terakhir, Fever tidak pernah kalah. Itu yang saya nilai tidak sehat. Lebih baik bila Fever tidak ikut Srikandi Cup dulu. Itu akan membantu membangun tim lain lebih bersemangat.

Contohnya ketika LeBron James pindah ke Lakers. Secara tidak langsung, tim-tim di Wilayah Timur akan lebih bersemangat untuk mengejar juara. Karena saat LeBron masih di Cleveland Cavaliers, secara psikologis mereka akan mengatakan bahwa juara Wilayah Timur sudah pasti Cavaliers.

Jadi pada intinya, itu juga yang saya inginkan saat Fever menarik diri dari Srikandi Cup. Saya harap dengan tidak adanya Fever, semangat berkompetisi semakin bagus. Bila benar-benar terjadi, maka timnas Indonesia juga yang diuntungkan. Karena mendapatkan pemain yang bersemangat untuk berkompetisi."

Bagaimana dengan Surabaya Fever setelah mundur dari Srikandi Cup?

"Saya memang merencanakan beberapa program untuk Fever. Khususnya di luar negeri. Mungkin kerja sama dengan klub lain, buat turnamen, latihan bareng atau bahkan bisa ikut liga di luar negeri.

Saya ingin program ini dimulai secepatnya, hingga menjelang SEA Games Manila nanti."

Bagaimana peluang Indonesia di SEA Games nanti?

"Saya melihat bahwa kesempatan Indonesia untuk mendapatkan medali emas itu tinggi sekali. Khususnya di putri. Karena saya melihat di SEA Games 2015 di Singapura lalu, seharusnya Indonesia bisa mendapatkan medali emas.

Menurut saya, saat melawan Malaysia di pertandingan pertama, Indonesia hanya gugup dan belum terbiasa melawan pemain luar negeri. Saya ditemui beberapa ofisial Malaysia saat SEA Games Singapura itu, menurut mereka kalau Malaysia melawan Indonesia di pertandingan kedua atau ketiga, Malaysia bisa kalah. Sebab Indonesia lebih hebat di laga kedua hingga akhir turnamen.

Hasilnya memang sangat disayangkan. Kita hanya mampu meraih perak. Padahal seharusnya bisa emas. Jadi menurut saya, para pemain harus dibiasakan untuk melawan pemain asing. Mereka harus dibiasakan dari sekarang, sehingga saat SEA Games nanti sudah tidak canggung lagi."

Lalu, apa ada pemain tim lain dari Srikandi Cup yang akan dipanggil untuk timnas?

"Tentu sejak awal saya punya keinginan untuk mengajak mereka dalam program ini. Tapi apa itu mungkin, karena Srikandi Cup akan dimulai sebentar lagi. Tentu mereka harus membela klub masing-masing.

Rencananya Fever dulu yang akan memulai. Setelah itu, para pemain yang potensial dari klub lain akan ikut dalam program ini. Bisa saja, mereka masuk setelah Srikandi Cup selesai. Supaya tidak mengganggu persaingan kompetisi."

Foto: Yoga Prakasita dan Mei Linda

Komentar