TIMNAS

Indonesian Basketball League (IBL) tengah berada dalam masa jeda. Kompetisi memang libur tetapi para penggiatnya tetap sibuk dengan agenda masing-masing. Klub-klub tetap melakukan kegiatannya sementara orang-orang di balik layar liga ini sibuk menjalankan sistem perekrutan pemain lokal baru. Sistem itu bernama IBL Draft.

Sejak Juli-Agustus 2018, IBL telah mengumpulkan 26 nama yang mendaftar melalui Liga Mahasiswa (LIMA) dan Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi)—dua jalur masuk ke IBL. Mereka pun memanggil nama-nama itu untuk menghadiri IBL Draft Combine di Jakarta pada 3-8 September 2018. Para calon ruki (rookie) lantas diminta menunjukkan kemampuannya, baik secara teknik maupun mental, karena para pelatih kiriman FIBA dan beberapa dari Indonesia akan menilai kelayakan mereka di sana.

“Para calon ruki IBL ini bersaing dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka layak tampil di kompetisi tertinggi. Selain teknis, mereka harus siap mental,” kata Hasan kepada Mainbasket kemarin, Selasa 4 September 2018.

(Baca juga: 26 Pemain Calon Ruki IBL Diseleksi oleh Damian James Cotter)

Jika menilik persiapannya, wacana IBL Draft sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Wacana itu sudah terdengar sejak 2015 silam ketika Starting 5 (IBL) mengambil alih tampuk keberlangsungan liga dari NBL Indonesia. Namun, IBL belum berjalan saat itu sehingga wacana tersebut berlalu seperti angin.

Setelah IBL melalui tiga musim, angin itu justru semakin kencang berembus. Direktur IBL Hasan Gozali mengatakan, timnya akan benar-benar menerapkan sistem draft menjelang musim 2018-2019. Ia lantas meminta klub-klub memasukkan pemain binaannya ke dalam roster 2017-2018 karena itu kesempatan terakhir mereka. Jika tidak masuk ke dalam roster musim lalu, maka pemain harus mengikuti draft musim depan dan ada kemungkinan ia tidak bisa bermain dengan tim yang membinanya.

(Baca juga: IBL Kerja Sama dengan LIMA untuk Draft Pemain)

Pada Juli 2018, IBL serius menjalankan wacananya. Mereka mengumumkan kerja sama dengan Liga Mahasiswa (LIMA). Hasan dan timnya memang hendak merekrut pemain dari kompetisi antarmahasiswa seperti yang dilakukan NBA dan NCAA di Amerika Serikat. Nantinya LIMA akan menjadi pintu utama para pemain untuk bermain di IBL.

Kendati begitu, kondisi LIMA saat ini sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa orang mengeluhkan inkonsistensi LIMA dalam menyelenggarakan kompetisinya. Kepala Pelatih Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) Bandung, Ricky Gunawan, misalnya, menilai kompetisi antarmahasiswa itu mengalami penurunan daripada tahun pertamanya pada 2012 silam.

“Secara pribadi saya melihat awalnya bagus, tapi ada tren menurunlah dari segi penyelenggaraan, dari segi format, dan hal lain yang seperti itu. Begitu yang saya lihat,” kata Ricky.

(Baca juga: Wacana IBL Draft, Rivaldo Pangesthio Terancam Batal Main Bareng Satria Muda)

Ricky tentu bukan satu-satunya yang menilai LIMA sedang mengalami penurunan. Beberapa penggiat juga menilai begitu, termasuk Hasan Gozali. Direktur IBL itu mengatakan, LIMA mengalami penurunan dari penyelenggaraan kompetisi bola basketnya. Akan tetapi, ia tetap mau bekerja sama karena melihat kompetisi antarmahasiswa itu memiliki jumlah pertandingan yang lebih banyak dari lainnya.

Dari sekian banyak penilaian, kerja sama IBL dengan LIMA juga bukan berarti tidak akan membuahkan hasil positif. Beberapa klub melihat ini sebagai kesempatan mereka untuk merekrut pemain baru, terutama bagi mereka yang kekurangan pemain. Oleh karena itu, IBL draft pun menjadi penting untuk dilaksanakan sesegera mungkin.

Mainbasket lantas mengumpulkan berbagai pandangan itu dalam laporan mendalam di majalah Mainbasket edisi 72 (September 2018). Kami telah mewawancarai berbagai pihak, seperti: Hasan Gozali (IBL), Ryan Gozali (LIMA), peserta LIMA dan IBL. Dari sanalah kami mendapat berbagai informasi tentang persoalan teknis penyelenggaraan IBL Draft, alasan LIMA mengalami penurunan dan usaha bangkitnya, pintu masuk lain dari jalur Perbasi, sampai pro dan kontra penyelenggaraan draft tersebut.

Seperti apa cerita lengkapnya?

Majalah Mainbasket edisi 73 (September 2018) sudah terbit dan tersebar di toko-toko buku seperti Gramedia di seluruh Indonesia.

Foto: Dok. IBL

Komentar