TIMNAS

Fadil Akbar hampir kesulitan bicara karena suaranya serak. Wajahnya penuh dengan peluh. Sementara jerseynya sudah lama basah. Namun, ia puas dengan pencapaiannya hari itu. Fadil dan sekolahnya, SMAN 1 Payakumbuh, menjadi juara Mainbasket 3x3 Indonesia Competition 2019 di Padang.

Fadil sendiri akhirnya menyabet gelar pemain terbaik alias Most Valuable Player (MVP). Ia tidak menyangka bisa mendapat gelar, tetapi bersyukur karena sudah sampai ke tahap itu. Sebab, tahun depan, ia akan lulus dari SMA dan melanjutkan perjalanan ke jenjang berikutnya.

Saya kemudian menemui Fadil seusai pertandingan final melawan SMAN 2 Pariaman. Ia tampak lelah, tetapi bahagia. Kami berbicara tentang beberapa, termasuk perjalanan empat jam dari Payakumbuh ke GOR Prayoga di Kota Padang.

Apa pendapatmu soal pertandingan final?

Pertandingan final ini adalah pertandingan yang sangat mendebarkan bagi saya. Karena ini kali kedua saya mendapatkan juara satu.

Tahun kemarin juara?

Tahun kemarin bukan di pertandingan ini. Di Merah Putih. Merah Putih Cup.

Sekarang juara lagi di Mainbasket 3x3?

Iya, alhamdulilah berkat bantuan teman-teman saya bisa jadi juara lagi.

Sudah berapa lama main basket?

Sejak kelas satu.

Satu SMA?

Eh, satu SMP. Sekarang sudah kelas tiga. Sudah sekitar enam tahun.

Berarti sudah lama, ya?

Iya, lumayanlah.

Apa yang menarik dari basket?

Basket ini olahraga yang sangat melatih mental kami. Bekerja sama itu sulit. Jadi, untuk melatih kekompakan perlu latihan.

Waktu pertama main basket pasti main 5-on-5, bukan 3x3?

Iya, bukan. Waktu pertama kali main itu lima lawan lima. Satu tim. Bukan 3x3. Cuma saya tertarik dengan 3x3. Kelihatannya seru dan baru. Dan ternyata memang seru, terutama di 3x3 kali ini.

Waktu main 3x3 ada kesulitan?

Susah sebenarnya. Lebih menegangkan juga. Waktunya cuma sebentar. Bola hidup terus, tidak ada matinya. Lebih capek jadinya ini. Kalau di 5-on-5, kami main berlima. Bisa share bola dulu saja. Di sini cuma tiga. Bola mengalir terus. Oper-oper sampai dapat celah masuk.

Apa yang bikin kamu juara?

Berkat kekompakan tim juga latihan yang terus menerus. Kami latihan terus supaya bisa juara.

Selama berapa lama persiapannya?

Kami dipilih sudah dua bulanan. Latihan selama dua bulan. Cukup intens supaya bisa juara tadi.

Memang dipilih khusus 3x3?

Iya, pelatihnya Bang Farel. Dia yang pilih kami untuk mengikuti 3x3.

Coba ceritakan soal pelatihmu!

Dia ini orangnya tegas. Sebelum waktu habis, belum menganggap kami menang. Kalaupun skor sudah unggul, tapi waktu belum habis, harus tetap berjuang. Setelah itu baru boleh riang gembira. Kami tidak boleh cepat puas ketika pertandingan masih berlangsung.

Tahun ini untuk menjadi juara sulit tidak?

Lumayan sulit. Karena yang umurnya muda-muda masuk yang fullteam. Jadi, yang ikut 3x3 yang umurnya lebih besar. Agak sulit karena yang bagus ada di fullteam. Yang 3x3 tua-tua.

Setelah ini mau ngapain? Masih akan terus main basket?

Iya, masih akan terus main basket. Habis ini mau pulang ke Payakumbuh. Pulang dulu. Saya capek.

Perjalannya jauh?

Lumayan. Sekitar empat jam. Makanya kami menginap di sini, di Bunda House. Tidak pulang-pergi. Tapi, sempat pulang setelah pertandingan pertama. Karena harus sekolah waktu itu. Terus lanjut lagi ke sini sampai Jumat kemarin. Jumat pulang dulu, minta restu orang tua, Sabtu ke sini lagi untuk final. Bolak-balik berjam-jam supaya bisa ikut 3x3.   

Menurutmu Mainbasket 3x3 ini seperti apa persainganya? Sampai kamu mau bolak-balik.

Ini kompetisi yang bagus. Karena jadi punya wadah untuk berprestasi.

Puas dengan pencapaian ini?

Sangat puas. Rasanya latihan ini tidak sia-sia. Bolak-balik Padang-Payakumbuh juga tidak sia-sia. Kami menginap sebentar di sini sampai saya bisa membanggakan orang tua. Saya senang sekali.

Apa harapannya untuk Mainbasket 3x3 tahun depan?

Mudah-mudahan sekolah kami bisa juara lagi. Tahun ini juara, tahun depan harus lebih baik lagi. Harapannya untuk Mainbasket 3x3, saya harap bisa diadakan lagi. Ini wadah yang bagus untuk anak-anak yang tertarik pada 3x3. Sebab, kompetisi ini bukan hanya 5-on-5, tapi juga 3x3.

Foto: Gilang Adi Nugraha/DBL Indonesia

Komentar