BEL1EVE
21 Mei 2019

Saya ada di sana ketika CLS Knights Surabaya mengundurkan diri dari Indonesian Basketball League (IBL). Mereka mengundurkan diri karena IBL memaksa semua klub harus berbentuk perseroan terbatas (PT). Sementara itu, CLS yang dinaungi yayasan tidak mau mengubah statusnya.

Saya sedih sekaligus bingung sebenarnya. Dari tahun ke tahun, peserta liga bola basket tertinggi Indonesia berkurang. Stadium Jakarta setahun sebelumnya juga telah hilang. Mereka melebur dengan Aspac Jakarta menjadi Stapac Jakarta. Mundurnya CLS Knights hanya menambah daftar kehilangan.

Kendati demikian, ada satu hal yang kemudian tumbuh seperti harapan. Managing Partner CLS Knights Christopher Tanuwidjaja mengatakan kepada kami, para wartawan, bahwa mereka kemungkinan akan mengikuti kompetisi lain.

“Ini ada tawaran buat ikut ABL, tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,” kata Christopher di Surabaya pada medio 2017. Saya masih ingat ia mengatakan itu, tetapi tidak begitu ingat syarat-syaratnya. Saya hanya ingat satu syarat: CLS Knights harus memiliki partner media yang bisa menyiarkan pertandingan.

Wacana tentang ABL itu kemudian menguap seiring kepulangan saya ke Bandung. Namun, saya kembali berbenturan dengan itu ketika kembali ke Surabaya. Kali itu wacana CLS Knights mengikuti ABL bukanlah sebuah wacana lagi. Mereka benar-benar mengikuti kompetisi antarklub se-Asia Tenggara bahkan Asia tersebut. CLS Knights punya kontrak dua tahun untuk berkompetisi di ABL. Mereka mengubah nama CLS Knights Surabaya menjadi CLS Knights Indonesia. Sebab, mereka tidak lagi membawa Surabaya saja, tetapi juga Indonesia.

Saya senang bukan main. Meski tidak bisa melihat CLS Knights di IBL, saya tetap bisa melihat mereka di ABL. Ternyata ketika satu pintu tertutup, ada satu pintu lain terbuka untuk anak-anak yayasan. Pintu itulah yang membuka jalan akan tumbuhnya harapan-harapan.

Di musim pertamanya, CLS Knights hancur-hancuran. Mereka benar-benar kesulitan. Beberapa pemain bahkan sempat mengeluh karena harus terbang ke sana-ke mari. Belum lagi transit. Bagaimanapun, perjalanan ke negara-negara Asia bukanlah hal mudah. Mereka kelelahan. Namun, pengalaman pastilah mengajarkan sesuatu kepada mereka.

Seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan, pemain CLS Knights mulai terbiasa melakukan perjalanan antarnegara. Sayangnya, mereka belum terbiasa untuk menang. CLS Knights bahkan beberapa kali bongkar-pasang pemain asing. Duke Crews cedera. Rudy Lingganay tidak bisa diharapkan. Untung mereka punya Brian Williams dan Frederick Lish.  

Para pendukung pun mulai kecewa dengan penampilan CLS Knights. Mereka tidak tahan melihat klub kebanggaannya kalah berkali-kali. Sebagai pendukung Garuda Bandung (sekarang Prawira Bandung), saya paham perasaan mereka. Saya sudah bertahun-tahun melihat Garuda menjadi tim semenjana.

Para pendukung lantas tidak lagi memenuhi bangku-bangku penonton di GOR Kertajaya. Mereka hilang satu per satu. Mereka bahkan menuntut Kepala Pelatih Koko Heru Setyo Nugroho mundur. Christopher mafhum, tetapi ia mempertahankan Koko. Pada akhirnya CLS Knigts terdampar di peringkat tujuh. Mereka gagal menembus playoff.

Perjalanan musim pertama selesai.

Di musim kedua, para pendukung CLS Knights tidak berhenti berharap. Mereka ingin sesuatu yang lebih baik. Manajemen CLS Knights kebetulan mengupayakannya. Apalagi mereka punya target baru: CLS Knights ingin lolos ke playoff.

CLS Knights lantas merekrut pelatih dan beberapa pemain baru. Mereka merekrut Brian Rowsom sebagai kepala pelatih, lalu menggeser Koko menjadi asisten pelatih bersama Ricky Dwitauri. Mereka juga punya Derry Drew untuk membantu mengembangkan fisik pemain.  

Di jajaran pemain, CLS Knights merekrut Brandon Jawato, Wong Wei Long, Maxie Esho, Montay Brandon, dan Stephen Hurt.

Jawato dan Wei Long merupakan tambahan yang bagus. Mereka masuk ke deretan pemain lokal karena punya garis keturunan orang Indonesia. Artinya, CLS Knights masih bisa merekrut tiga pemain asing.

Dengan adanya Jawato dan Wei Long, kekuatan lokal CLS Knights jelas bertambah. Saya pernah melihat Jawato di IBL. Saat itu ia masih membela Pelita Jaya Basketball Club. Jawato mengantarkan Pelita Jaya ke peringkat dua pada 2016. Sementara itu, Wei Long merupakan pemain tim nasional Singapura. Ia legenda Singapore Slingers. Penembak tripoin yang andal.

Setelah Jawato dan Wei Long, CLS Knights mendatangkan tiga pemain asing: Esho, Brandon, dan Hurt. Saya percaya dengan Esho. Ia telah membuktikan kualitasnya saat membela Saigon Heat. Namun, saya buta soal Brandon dan Hurt.

Siapa mereka? Jujur saja, saya ragu saat itu. Mereka perlu membuktikan kualitasnya.

Di awal musim, keraguan itu terbukti. Brandon dan Hurt tidak mampu mengantarkan CLS Knights ke papan atas. Mereka hanya mencetak 2 kemenangan dari 8 pertandingan. Christopher lantas mengganti mereka dengan Douglas Herring Jr. dan Darryl Waktins. Saya melihat keseriusan manajemen untuk mengejar kesempatan lolos ke playoff.

Herring dan Watkins menjadi semacam harapan. Para pendukung CLS Knights tidak ingin lagi melihat klub kebanggaannya terdampar di papan bawah. Dua pemain itu menjawab harapan mereka. CLS Knights mencetak tujuh kemenangan pada 13 Januari-1 Februari 2019. Mereka naik perlahan-lahan ke papan atas. Beberapa rekor juga mereka pecahkan. Salah satunya rekor tripoin terbanyak dalam satu pertandingan.

Saya pun mulai percaya; CLS Knights bisa melakukannya.

Pada akhirnya CLS Knights benar-benar lolos ke playoff. Mereka finis di peringkat empat. Dan, terlanjur sudah sampai babak itu, mengapa tidak mereka ke final sekalian? Saya selalu berharap mereka bisa melakukannya.

Lawan pertama CLS Knights di putaran pertama adalah Saigon Heat. Itu merupakan pertarungan antara guru dan murid. Sebab, Rowsom pernah membimbing Kepala Pelatih Heat Kyle Julius ketika mereka membela Carolina Thunder di American Basketball Association Professional League. Namun, saya selalu percaya Rowsom bisa mengalahkan Heat.

CLS Knights pun menang 2-1.

Di putaran kedua, CLS Knights mesti menghadapi Mono Vampire Basketball (Thailand). Mono merupakan lawan yang cukup berat. Mereka adalah finalis 2017-2018. Musim ini, Mono punya barisan lokal seperti Tyler Lamb dan Frederick Lish. Namun, saya tetap percaya CLS Knights bisa mengalahkan mereka.

Pada akhirnya, CLS Knights menang 2-1. Mereka lolos ke final sesuai harapan.

Kendati demikian, lawan mereka di final sangatlah berat. Singapore Slingers merupakan klub peringkat tiga. Secara peringkat, mereka jelas di atas CLS Knights. Belum lagi Wei Long selalu bermain di bawah performanya ketika melawan Slingers. Saya ragu ia bisa merdeka dari perasaan sungkan ketika menghadapi bekas klub. Namun, harapan tetaplah harapan. Ia menguat seiring berjalannya waktu. CLS Knights sudah sangat bagus berada di final. Mereka tinggal selangkah lagi menuju podium juara. Saya percaya Wei Long bisa mengatasinya.

Dalam empat pertandingan, Wei Long—seperti biasa—bermain di bawah performa sebenarnya. Ia tidak banyak mencetak poin. Untungnya CLS Knights punya Esho, Herring, Watkins, dan Jawato. Beberapa pemain lokal juga cukup berguna. Saya sangat senang ketika melihat Arif Hidayat, Sandy Febiansyakh, dan Febri Utomo bisa ikut bersaing. Mereka tiga orang pemain lokal yang paling layak mendapat pujian. Mereka telah melalui pertandingan demi pertandingan yang berat.

Salah satu pertandingan final terberat yang tidak pernah saya lupakan adalah pertandingan ketiga. Bukan karena pertandingan itu seru atau menegangkan. Namun, karena saya kesal dengan wasit yang memimpin pertandingan. Mereka tidak layak memimpin karena serampangan mengambil keputusan. Mereka kontroversial. Saya bahkan tidak pernah melupakan nama-nama wasit yang bertugas saat itu.

Ricor Buaron, Wei Chuen Chu, dan Nattapong Jontapa. Saya berkali-kali merapal nama mereka. Saya tidak ingin melupakannya. Sebab, ketika CLS Knights juara nanti, saya ingin menjadi orang pertama yang menertawai mereka sambil berkomentar di linimasa Instagram dengan menyebut nama ketiganya.

CLS Knights kemudian beralih ke pertandingan kelima. Mereka hanya punya satu kesempatan lagi untuk mewujudkan mimpi jadi juara. Saya benar-benar tegang. Saya ingin CLS Knights juara musim ini.

We believe. BEL1EVE. Saya berusaha untuk terus percaya kepada CLS Knights.

Selama pertandingan, tubuh saya rasanya panas. Saya tidak banyak bergerak karena tegang. Hanya diam menonton lewat layar televisi. Kebetulan pertandingan kelima berlangsung di OCBC Arena, Singapura. Saya belum punya kesempatan untuk menonton langsung ke sana.

CLS Knights tampil luar biasa. Mereka mampu memberi perlawanan. Namun, Wei Long belum juga menunjukkan performanya. Saya agak khawatir ia masih sungkan melawan Slingers. Namun, semua berubah di ujung pertandingan. Saya ingat adegannya.

Saat itu kedudukan imbang 79-79 dengan sisa waktu 1:05. Herring memegang bola. Wei Long membuka tembok untuk menghalangi Xavier Alexander supaya Esho bebas. Alexander terkena tembok, lalu Desmond Oh berusaha menggantikannya menjaga Esho. Namun, keputusan itu justru menjadi keputusan buruk. Sebab, Wei Long menjadi bebas di sayap kanan serangan.

Tanpa ragu, Wei Long melepas tembakan dari garis busur, dan masuk! Tripoin untuk CLS Knights Itu merupakan tembakan terindah yang pernah saya lihat. Tripoin Wei Long menjadi kunci penting kemenangan mereka. CLS Knights juara dengan skor 84-81. Saya berlari mengelili kantor saking senangnya.

Saya sebenarnya tidak bermaksud untuk berlari mengelilingi kantor. Namun, saya sudah kadung senang. CLS Knights akhirnya bisa juara. Mereka mencapai puncaknya. Mereka menjawab semua kepercayaan kami.

Saya senang. CLS Knights menang. Pada akhirnya saya bisa puas menulis nama Ricor Buaron, Wei Chuen Chu, dan Nattapong Jontapa di Instagram ABL. Saya selalu percaya bisa menulis nama mereka ketika CLS Knights juara.

BEL1EVE!  

Foto: Yoga Prakasita dan Mei Linda

Komentar