ABL

Kaleb Ramot Gemilang, forwarda CLS Knights Indonesia di Asean Basketball League (ABL), kini sudah tidak lagi bersama timnya. Ia memutuskan pergi dari Surabaya ke Ibukota untuk merapat kembali ke Indonesian Basketball League (IBL) bersama Stapac Jakarta. Ia bahkan sudah berlatih bersama Stapac lebih dari seminggu ini.

Menurut Manajer Gagan Rachmat Hidayat, perekrutan Kaleb ke Stapac ditengarai dengan alasan kebutuhan. Ia membutuhkan pemain seperti Kaleb untuk mengisi slot di skuatnya demi menambah daya gedor di musim baru. Apalagi Stapac juga ingin menjadi juara lagi setelah terakhir kali merengkuh gelar itu pada empat tahun silam. Mereka lantas mengontrak pemain kelahiran Bandung, 30 Mei 1991 itu selama tiga tahun.

“Kami butuh orang seperti Kaleb,” ujar Gagan ketika dihubungi Mainbasket. “Dia pernah juara. Kami mau juara juga.”

Sementara itu, Kaleb punya alasan sendiri tentang keputusannya pindah klub. Ia mengaku ingin mencoba bermain basket di Ibukota dengan peruntungan baru.

“Selain itu, biar dekat sama keluarga juga, sih,” ujar Kaleb menjelaskan. “Orang tua, kan, di Bandung. Adik (Jan Misael Panagan, garda CLS) di Surabaya, abang saya di Batam. Kasihan orang tua kalau tiga anaknya jauh semua. Jadi, salah satu keuntungan (pindah) ke Jakarta, ya itu (lebih dekat dengan keluarga).”

Kaleb memulai karirnya di liga bola basket Indonesia pada 2013-2014 bersama Satya Wacana Metro LBC Bandung. Ia bermain di sana selama satu musim sampai akhirnya pindah ke CLS Knights Surabaya. Di musim perdananya bersama CLS, Kaleb bermain di 31 pertandingan reguler dengan mencetak rata-rata 5,3 poin dan 2,9 rebound per pertandingan. Namun, sayangnya, ia tidak langsung menjadi juara karena CLS belum cukup kuat menumbangkan klub sekelas Satria Muda Jakarta di tahun terakhir NBL Indonesia.

Musim berganti, operator liga juga berganti dari NBL Indonesia ke IBL. CLS tetap setia menjadi klub peserta sampai saat itu. Mereka bahkan keluar sebagai juara di tahun pertama IBL pada 2016, menumbangkan Pelita Jaya Jakarta di final 2-1. Kaleb pun merengkuh gelar juara pertamanya sebagai seorang profesional.  

Setelah dua musim di IBL, CLS mundur dari liga bola basket Indonesia karena menolak menjadi perusahaan terbuka (PT). Mereka lantas bergabung dengan ABL yang cakupan kompetisinya lebih besar dengan membawa gerbong mereka yang dulu bermain di IBL, termasuk Kaleb. Pemain bertinggi 183 sentimeter itu pun jadi sempat merasakan ketatnya kompetisi klub-klub se-Asia. Ia mencetak rata-rata 4,2 poin dan 1,5 rebound per pertandingan di musim pertamanya.

Kini, bersama Stapac, Kaleb manargetkan diri untuk menjadi juara lagi. Ia bahkan mengatakan juara itu adalah target bersama. Ia yakin dengan kemampuan klub barunya.

“Menurut saya, sih, Stapac akan jadi salah satu kandidat juara,” kata Kaleb lagi.

Di sisi lain, ketika Kaleb memutuskan hengkang, CLS sudah mendapat gantinya. Mereka merekrut dua pemain berdarah Indonesia seperti Brandon Jawato dan Wong Wei Long.

Jawato sebelumnya membela Pelita Jaya di IBL 2016 sementara Wong Wei Long merupakan pemain tim nasional Singapura. 

Aturan baru ABL membuat Wei Long bisa membela CLS sebagai pemain lokal. Syaratnya, salah satu orang tua pemain bersangkutan berasal dari negara tim yang memakai jasanya. Dalam kasus Wei Long, kedua orang tuanya kebetulan berasal dari Indonesia, tepatnya Kepualauan Riau. Ayahnya bahkan sempat bermain di Pekan Olahraga Nasional (PON). Maka, Wei Long pun bisa membela CLS sebagai tenaga lokal. 

Sebelum ke CLS, Wei Long juga sempat bermain bersama Singapore Slingers selama delapan musim (2009-2017). Ia merupakan pemain Slingers yang sudah bermain di tim itu sejak penampilan perdana mereka di ABL. Ia bahkan menjadi pemain terbaik lokal ABL dua kali pada 2014 dan 2016.

Dari catatan terakhirnya bersama Slingers, pemain yang dikenal dengan kemampuannya menembak itu mencetak rata-rata 10,7 poin, 3,1 rebound, 2,9 asis, dan 2,2 steal per pertandingan. Nantinya ia akan menjadi tambahan opsi penembak jarak jauh CLS, di samping Sandy Febiansyakh yang terkenal dengan kemampuan serupa, sehingga klub asal Surabaya itu bisa lebih sangar di belakang garis tripoin. Apalagi CLS kini dikomandoi pelatih asing yang pernah bermain di NBA, Brian Rowsom.

Akan seperti apa wujud CLS dan Stapac nantinya? Kita saksikan saja ABL dan IBL 2018-2019 nanti.

Selamat menunggu!

Foto: Yoga Prakasita

Komentar