TIMNAS

Brylia Sheron Elbiqueen Tumanduk, begitulah nama siswi Independent School Manado, yang berkesempatan terbang ke Amerika Serikat bersama Honda DBL Indonesia All-Star 2018. Ia bersama 23 anak lainnya menjalani kegiatan berharga selama sepekan. Mereka berlatih, bertanding, sekaligus berjalan-jalan di Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Brylia mengaku senang mengikuti kegiatan itu. Ia bersyukur bisa menimba banyak ilmu dan pengalaman selama sepekan di sana. Sebab, tidak semua anak bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Ia pun berharap bisa membagikan semua yang didapatkannya kepada teman-temannya di Manado.

Mainbasket mewawancarai Brylia tentang perjalanannya ke Negeri Paman Sam bersama DBL Indonesia. Ia menceritakan semuanya, termasuk perasaannya ketika mengikuti turnamen sekela AAU.

Simak wawancara berikut:

Halo, Brylia! Apa kabar?

Hehehe. Halo! kabarku baik, kok.

Seperti apa perjalananmu ke Amerika Serikat?

Perjalanan ke Amerika bersama full team DBL All-Star 2018 tentunya sangatlah seru dan menyenangkan, di mana kami harus transit di Singapura selama sejam, dan transit lagi di Taipei berjam-jam.

Sambil main uno sama teman-teman, dan juga beberapa coach dan kru dari DBL Indonesia. Itu adalah salah satu yang terbaik yang enggak bakal terlupakan.

Sesampainya di AS, kami jalan-jalan beli barang.

Selama di sana sempat latihan. Bareng James Hunt, misalnya, dapat apa saja?

Hari pertama itu latihannya sama James Hunt. Dapatnya banyak banget pengalaman, materi-materi yang aku belum tahu. Kayak how to make your shooting, lay up, tir drop, dan sebagainya.

Apa bedanya sama latihan di Mamba Sports Academy?

Kalau di Mamba Sports Academy beda lagi. Saat itu kami dilatih bagaimana small player bisa bermain big atau post, dan sebaliknya. Ada beberapa pola seperti horn dan lain-lain.

Selain latihan kalian juga sempat jalan-jalan dan nonton NBA. Apa pendapatmu soal game NBA yang kamu tonton?

Hari kedua itu—malamnya—kami di jadwalkan untuk nonton NBA. Dan, lebih seruhnya, gim tersebut adalah Lakers vs. Rockets. Itu seru banget. Like dreams come true.

Gim tersebut sangat seru karena Lakers sudah ketinggalan 10-an angka, dan mereka bisa comeback stronger, bisa memenangkan pertandingan dengan LeBron yang mampu mencetak 29 poin.

Oh ya, kamu juga ikut turnamen AAU di AS. Seperti apa turnamennya? Lawan-lawannya susah gak?

Selama di Amerika kami juga dapat kesempatan untuk ikut turnamen. Lawan-lawannya memang jago-jago. Di hari pertama turnamen itu kami kalah satu kali dan menang satu kali.

Meski gak lolos ke final, apa yang kamu dapat selama turnamen?

Kalau menurutku, meskipun tim DBL All-Star enggak masuk final, setidaknya kami sudah dapat kesempatan untuk bermain di Amerika. Banyak pengalaman yang kami dapatkan jelang turnamen itu.

Sebenarnya kami itu bisa menang, tapi ada beberapa perbedaan dari wasit tentang rules mainnya di sana. Soalnya agak beda dengan rules yang ada di Indonesia.

Salah satu faktornya juga karena suhunya dingin banget. Mencapai empat derajat celcius. Dan, kami belum bisa beradaptasi meski—puji Tuhan—di gim kedua menang.

Walaupun di gim ketiga kalah, kami tetap sangat bersyukur karena bisa dapat kesempatan untuk mencari pengalaman di sana.

Nanti pulang mau ngapain dengan segudang pengalaman dari AS?

Menjadi salah satu bagian besar dari DBL All-Star itu adalah suatu kebanggan bagi saya. Dan, apa pun pengalaman dan pelajaran yang aku dapat di sini akan aku share ke teman-teman. Biar enggak gampang menyerah dengan situasi apa pun. Tetap berjuang menjadi yang lebih baik. Jangan cepat puas karena di atas langit masih ada langit.

When you fall seven times. You should stand up eight. And, show the world that you made it.

Komentar