IBL

Micah Nori akhirnya buka suara setelah menjadi kepala pelatih Portland Trail Blazers. Pengakuan Nori tersebut berselang sehari setelah Asosiasi Pelatih NBA (NBCA) mengkritik skema kontraknya dengan Blazers.

Meski begitu, Nori menegaskan antusiasmenya menjadi kepala pelatih NBA untuk pertama kali. Ia juga telah berbicara dengan J.B. Bickerstaff selaku Presiden NBCA. Nori tidak terpengaruh dengan persoalan kontrak dan bersiap memulai babak baru di Portland.

Nori sebelumnya merupakan salah satu asisten pelatih papan atas. Ia menjadi asisten pelatih selama 17 tahun di Toronto, Sacramento, Denver, Detroit, hingga Minnesota. Dalam lima musim terakhir, Nori terlibat sebagai asisten pelatih utama Timberwolves.

Baca juga: Micah Nori Ditunjuk Sebagai Pelatih Portland Trail Blazers

Kesempatan Nori naik jabatan tiba. Blazers mencari pengganti pelatih interim Tiago Splitter. Setelah berkali-kali gagal, Nori akhirnya mendapatkan hal yang sudah lama ia nantikan. Nori menjadi pelatih ke-17 dalam sejarah Blazers.

Dilansir melalui laman ESPN, Nori mengaku tidak pernah berkecil hati selama menunggu kesempatan menjadi kepala pelatih. Selama proses tersebut, Nori memilih fokus untuk meningkatkan kemampuan dan memberikan kontribusi maksimal bagi tim.

“Saya rasa dalam lima proses wawancara, mereka mengatakan kepada saya, ‘Micah, Anda adalah pilihan kedua kami. Anda tampil luar biasa. Tetapi Mike Brown sudah pernah menjadi kepala pelatih. Sementara Anda belum pernah berada di posisi itu,” ujar Nori saat mengenang wawancara dengan New York Knicks pada 2025.

Nori telah beberapa kali diwawancara untuk posisi kepala pelatih. Termasuk Los Angeles Lakers pada 2024 yang kemudian merekrut JJ Redick. Setelah itu ada Knicks pada 2025 yang akhirnya memilih Mike Brown. Hingga Chicago Bulls pada bulan lalu dan mereka menunjuk Splitter.

Baca juga: Asosiasi Pelatih NBA Menyoroti Kontrak Micah Nori dengan Portland Trail Blazers

Takdir baru mempertemukan Nori dengan Blazers. Nori mengaku memahami bahwa setiap organisasi memiliki kebutuhan dan pertimbangan berbeda dalam memilih kepala pelatih. Alih-alih menganggap sebagai kegagalan, Nori justru menjadikannya sebagai kesempatan belajar.

“Ketika Anda berpindah ke kursi kepala pelatih, semua orang mengatakan perbedaannya hanya sekitar 18 inci. Apakah saya berkecil hati? Tentu tidak. Anda tidak akan bertahan di bidang ini selama 28 tahun di tempat yang sama dengan berkecil hati,” tutur Nori.

Kini tantangan baru menanti Nori bersama Blazers. Ia akan memimpin tim yang sedang membangun kembali kekuatannya dan diharapkan mampu membawa Blazers kembali bersaing.

“Saya bisa menjanjikan bahwa setiap malam kami akan bermain keras selama 48 menit. Kami bermain cerdas selama itu dan kami akan tampil solid sepanjang pertandingan,” imbuhnya. (rag)

Foto: Christian Petersen/AFP

Komentar