TIMNAS

“Kalau basket kita mau maju, kita harus meniru gaya basket Korea atau Filipina.”

Begitu kalimat yang kerap saya dengar dulu. Dulu ketika Honda DBL, liga bola basket antar pelajar terbesar di Indonesia memilih para pemain legendaris Australia sebagai pembimbing di DBL Camp.

Itu terjadi di tahun 2010.

Sebelumnya, DBL Camp, pusat pelatihan basket pelajar –yang juga- terbesar di Indonesia bekerja sama dengan NBA. Kerja sama dengan NBA dimulai dari tahun 2008. Saat itu namanya belum DBL Camp. Masih Indonesia Development Camp alias IDC.

“Kenapa basket Australia?”

Kalimat tersebut kembali terdengar ketika DBL membentuk DBL Academy, akademi basket modern pertama di Indonesia dengan fasilitas yang kemungkinan besar juga terbaik di Indonesia. Kurikulumnya dari World Basketball Academy, Australia.

“Kenapa Australia?”

Karena DBL punya hubungan baik dengan negeri Kanguru tersebut. Ketika para pemain DBL berkunjung ke sana, tak sungkan, yang menyambut adalah Menteri Pemuda dan Olahraganya dan juga salah satu gubernur yang negara bagiannya dikunjungi. Penghargaan yang luar biasa.

Oke, itu alasan yang tidak terkait langsung dengan basket. Alasan yang berhubungan dengan basket adalah karena Australia adalah salah satu kekuatan basket besar di dunia.

Terlepas dari Amerika Serikat sebagai kekuatan adidaya, Australia adalah kompetitor dan bukan tidak mungkin suatu saat menjadi kompetitor yang sangat diperhitungkan.

Tiga sampai lima tahun terakhir, basket Australia khususnya “para utusannya” menunjukkan taji di NBA. Dalam tiga tahun terakhir, juara-juara NBA selalu menyertakan para pemain Australia.

BN-IR628_MILLS_M_20150601115820

Ketika San Antonio Spurs juara di tahun 2014, di sana ada Aron Baynes dan Patty Mills. Waktu Stephen Curry dan Golden State Warriors juara di tahun 2015, mereka punya Andrew Bogut. Dan tahun ini, Cleveland Cavaliers memiliki Matthew Dellavedova, pemain yang sangat dihormati di Australia.

Hey, Kyrie Irving juga lahir di Melbourne, Australia!

Benar, tetapi ia pindah ke Amerika Serikat ketika berusia dua tahun. Nama-nama pebasket di atas, benar-benar dari Australia dan membangun kemampuan bermain basketnya dari Australia.

BN-IR768_aussie_M_20150601150608

Di era 1990-an, ada nama Luc Longley. Legenda basket Australia ini tiga kali juara NBA (1996-1998) bersama Chicago Bulls. Ya, dia satu tim dengan Michael Jordan. Luc Longley kini menjadi asisten pelatih di tim nasional Australia.

Tahun 1999, ketika San Antonio Spurs juara, nama Andrew Gaze juga terselip. Ia juga pemain Australia.

BN-IR770_aussie_M_20150601150914

Lalu tibalah hari ini. Hari ketika tim-tim NBA merekrut pemain-pemain baru, NBA Draft.

Seperti kita ketahui, Philadelphia 76ers mendapat kesempatan untuk memilih pertama kali. Dan mereka memilih Ben Simmons, nama yang digadang jauh-jauh hari akan muncul sebagai prospek terbaik tahun ini.

“Dia (Ben Simmons) akan jadi nomor satu,” kata Mick Downer tahun lalu.

Mick Downer atau disapa Coach Mick adalah pasangan Luc Longley sebagai asisten pelatih tim nasional Australia. Coach Mick juga pelatih di DBL Camp sejak tahun 2010 dan menjadi perancang kurikulum DBL Academy bersama Andrew Vlahov.

160623212353-ben-simmons-nba-nba-draft.1000x563

Ben Simmons adalah pemain kelahiran Melbourne dari ayah berdarah Amerika Serikat dan ibu Australia. Ia besar di Newcastle, Australia dan belajar basket di sana.

Sama-sama hebat di rugby dan basket, Ben kemudian mengikuti jejak ayahnya sebagai pemain basket dan pindah sekolah ke AS tahun 2013. Fundamental basket Simmons terbentuk di Australia dan sangat menonjol di antara para pemain muda AS saat itu. Dalam berbagai turnamen nasional AS, Simmons mendapat cukup banyak penghargaan.

Tamat SMA, Simmons melanjutkan ke Louisiana State University. Sebelum kemudian dipilih oleh Philadelphian 76ers di urutan pertama ronde 1 NBA Draft 2016.

Gaya permainan Simmons dan kelincahannya sedikit banyak membuat para pecinta NBA membayangkan LeBron James. “The next LeBron James,” kata orang-orang.

Saya kurang suka istilah “the Next”. Lebih senang si pemain tumbuh sebagai pemain itu sendiri dengan keunikannya masing-masing. Pemain yang dibebani "The Next" lebih sering berakhir tidak sesuai ekspektasi.

Kalau merujuk tempat kelahiran, Simmons adalah pemain kelahiran Melbourne ketiga yang menjadi pilihan pertama di NBA Draft. Sebelumnya ada Andrew Bogut dan Kyrie Irving.

Nama Ben Simmons bukanlah satu-satunya pemain Australia yang muncul di NBA Draft tahun ini. Ada Thon Maker.

160623210348-thon-maker-adam-silver-2016-nba-draft.1000x563

Thon Maker bukan asli Australia. Ketika berusia lima tahun, ia mengungsi dari Sudan untuk menghindari perang saudara. Ia dan keluarganya mengungsi ke Australia. Maker adalah warga negara Australia dan Sudan.

Pada usia 14 tahun, Maker mulai berkenalan dengan basket. Ia ditemukan tidak sengaja oleh Edward Smith saat sedang bermain sepak bola. Saat itu tahun 2011 dan Maker ditawari untuk pindah ke Sidney.

Thon Maker secara mengejutkan dipilih oleh Milwaukee Bucks pada urutan 10 ronde 1. Fisik, postur dan gaya bermainnya akan membuat kita mengasosiasikannya dengan Kevin Garnett atau Kevin Durant.

Simmons dan Maker adalah dua prospek Australia di NBA Draft tahun 2016. Tahun 2014, ada nama Dante Exum. Exum juga pemain dari Melbourne yang dipilih pada urutan kelima oleh Utah Jazz.

“Kenapa Australia?”

Ok, lagi-lagi pertanyaan ini.

Sejak tahun 2010, hampir setiap tahun, saya selalu berbincang dengan Coach Mick Downer. Satu hal yang saya pelajari, ia menekankan bahwa Australia sangat-sangat mengedepankan kemampuan fundamental bermain basket.

Mereka tidak butuh estetika. Basket harus efektif. Jika fundamental bermain bisa dijalankan dan mencetak poin, itu sudah cukup. Oh, fisik juga harus kuat!

Australia adalah kerja keras dan “kotor”. Para pemain Australia terkenal dengan gaya bermain yang mengandalkan kerja keras. Khususnya ketika bertahan. Point guard Matthew Dellavedova mempertontonkannya kepada kita semua di Final NBA tahun lalu ketika menjadi pengganti Kyrie Irving.

Para pemain Australia, karena jumlahnya tak banyak di NBA, menunjukkan kecenderungan yang berbeda dibanding para pemain asli AS. Para pemain Australia tidak terlalu tergila-gila dengan popularitas. Mereka bahkan cenderung menghindari sorotan. Karakter menonjolnya adalah pemain yang tidak egois dan lebih mengutamakan tim.

Kekhasan-kekhasan inilah yang juga tergambar ketika DBL Camp. Cetak biru atau dasar dalam membentuk pemain itulah yang kemudian dijadikan fondasi kurikulum DBL Academy.

Gempita Final NBA mulai mereda. Pengharapan atas pemain-pemain hasil NBA Draft hari ini baru mulai mengembang.

Ben Simmons sedang menikmati popularitasnya sebagai pilihan pertama. Thon Maker juga mendapat sorotan karena menusuk masuk ke pilihan di ronde pertama (padahal ia diproyeksikan akan terpilih di ronde kedua). Tantangan sudah menunggu mereka.

Tantangan apakah mereka mampu mengkonversi kemampuannya menjadi sesuatu yang sudah dimiliki Andrew Bogut, Matthew Dellavedova, Patty Mills, Aron Baynes, Andrew Gaze dan Luc Longley.

Bulan September nanti, DBL Camp akan kembali digelar di DBL Arena. 200-an lebih pemain terbaik hasil seleksi kompetisi DBL di 25 kota di seluruh Indonesia akan berkumpul di Surabaya.

Mereka akan dilatih oleh para pelatih dari Australia. Dua di antaranya adalah Mick Downer dan Andrew Vlahov. Dua nama yang dihormati di Australia, termasuk oleh Andrew Bogut, Matthew Dellavedova, Patty Mills, Aron Baynes, Andrew Gaze dan Luc Longley.

"Kenapa Australia?"

Kenapa tidak?

Foto: Associated Press, NBA.

Komentar