TIMNAS

Satria Muda, sang juara bertahan, masih belum menunjukkan kualitas sebagaimana harusnya sebuah tim berpengalaman yang telah jadi langganan juara. Tim yang dipenuhi oleh pemain-pemain lokal terbaik dari tingkat kampus, yang telah terbukti menjadi juara di IBL 3x3 dan tampil dominan hingga mencapai final di pra-musim kompetisi 2018-2019, masih belum dapat menunjukkan performa terbaiknya di musim kompetisi ini.

Kesan yang saya dapat dari Seri Bandung adalah para pemain Satria Muda tampak bermain di bawah tekanan, kurang komunikasi, dan kurang menikmati pertandingan. Selain itu, keberadaan atlet impor di Satria Muda tampak kurang mengoptimalkan potensi para pemain muda, sehingga permainan para atlet lokal tidak sehidup seperti pada masa prakompetisi. Tapi hal-hal tersebut hanyalah penilaian subjektif dari hasil observasi yang tidak menunjukkan hubungan tertulis dengan empat kali kekalahan beruntun yang dialami Satria Muda beberapa waktu lalu.

Lantas ada apakah dengan Satria Muda yang mengalami 4 kekalahan beruntun dari 5 pertandingan terakhirnya?

Tiga masalah utama yang saya temukan berdasarkan statistik adalah rendahnya efisiensi tembakan, sangat tingginya turn over (TO), dan tingginya offensive rebound (OREB) lawan. *Klik ini, untuk lebih memahami beberapa istilah dan singkatan di tulisan ini.

Rendahnya Efisiensi Tembakan (Termasuk Lemparan Gratis)

Pasca-Seri Bandung, Satria Muda memiliki EFG% (Effective Field Goal Percentage) sebesar 45,9 persen dan TS% (True Shooting) sebesar 50 persen, yang artinya tim ini memiliki efisiensi serangan yang rendah. Dari rata-rata setiap laganya, Satria Muda memasukkan 41 persen dari 66 percobaan, yang di antaranya adalah 23 percobaan tembakan tiga angka dengan keberhasilan sekitar 28 persen. Selain itu, Satria Muda juga memiliki rata-rata percobaan tembakan gratis sebanyak 22,18 per laga dan berhasil memasukkan hanya sekitar 67,2 persen.

Di bawah ini merupakan catatan rata-rata tembakan para pemain Satria Muda dengan waktu bermain di atas lima menit per laga, pasca-Seri Bandung.

Bila ditinjau dari EFG%, hanya dua pemain dengan EFG% > 50%. Rendahnya EFG% tersebut dipengaruhi oleh rendahnya 3P% para pemain dengan 3PA > 2, yang bahkan mencapai angka belasan sampai satu digit. Selain itu, bila mengacu pada kriteria minimal pemain sayap yang berperan sebagai spesialis penembak 3 angka (3PA ³ 2.5 dan 3P%: ³ 33%), maka hanya terdapat satu pemain yang memenuhi kriteria tersebut, yaitu Hardianus Lakudu. Sementara itu terdapat 4 pemain sayap dengan waktu bermain ³10 menit yang jauh di bawah standar 3P% (sekitar 9%-28%), di mana 3 di antaranya memiliki jumlah percobaan tembakan tiga angka yang rendah (< 2.5). Hanya terdapat 1 pemain lokal (Kevin Jonas Sitorus) dengan 3P% yang mencapai ³ 40% (sangat baik) dengan waktu bermain ³ 20 menit, namun memiliki 3PA yang masih di bawah standar (< 2.5).

Berdasarkan hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa rendahnya efisiensi tembakan tiga angka dan kurang meratanya distribusi percobaan tembakan tiga angka merupakan salah satu masalah Satria Muda. Pemain-pemain yang terbukti memiliki efisiensi tinggi di area-area spesifik perlu ditingkatkan percobaan tembakannya. Sementara para pemain yang memiliki efisiensi rendah perlu digali lebih lanjut mengenai sebaran area tembakannya (apakah berpola dan konsisten sesuai polanya, ataukah tidak beraturan).

Bila ditinjau dari TS%, hanya terdapat dua pemain (impor) dengan TS% ³ 55% karena produktif dengan jumlah percobaan yang tinggi, walau salah satunya memiliki FT% yang rendah (61%). Sedangkan di antara para pemain lokal, hanya terdapat dua pemain dengan TS% ³ 50%, di mana keduanya berkarakteristik PP (Paint Protector). Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satupun barisan lokal pemain sayap (BH dan 3D) yang memiliki tembakan yang efisien. Terlebih lagi bila terdapat empat pemain sayap dengan TS% yang di sekitar angka 30% atau bahkan lebih rendah, maka hal tersebut merupakan masalah besar bagi efisiensi serangan Satria Muda.

TOV yang Sangat Tinggi

Pasca-Seri Bandung, Satria Muda memiliki angka TO yang sangat tinggi, yaitu 18 TO per pertandingan dengan TOV% sebesar 19,3%. Lima pemain dengan waktu bermain rata-rata yang tertinggi berkontribusi sekitar 12,4 TO per pertandingan.

Rata-Rata OREB Tim Lawan yang Tinggi

Pasca-Seri Bandung, Satria Muda memiliki rata-rata OREB yang dilakukan tim lawan sebanyak 12,1 per pertandingan (sangat tinggi), dengan OPP OREB% sebesar 26,7% (bukan angka yang baik, tapi juga tidak terlalu buruk). Dari total 33,3 DREB per pertandingan, sekitar 61% disumbangkan oleh tiga pemain yang terdiri dari 2 pemain impor dan 1 pemain lokal dengan tinggi sekitar 178cm.

Dari pembahasan singkat di atas, tampak bahwa Satria Muda memiliki kelemahan yang sangat bermakna pada semua faktor dasar yang menentukan kemenangan sebuah tim. Kurang meratanya distribusi percobaan tembakan dapat berhubungan dengan masalah di strategi maupun masalah di koordinasi dan komunikasi permainan (eksekusi strategi). Akan tetapi, rendahnya efisiensi FT, tingginya jumlah TOV, dan banyaknya OREB yang dilakukan lawan (dapat berhubungan dengan komunikasi dan koordinasi maupun kesadaran diri untuk melakukan box out) merupakan hal-hal yang harus dievaluasi oleh setiap individu.

Dengan demikian sangat kurang tepat, bila menyebut kekalahan beruntun Satria Muda disebabkan oleh strategi permainan yang sangat mengandalkan Dior Lowhorn dengan TS% dan EFG% yang sangat tinggi dengan TOV% dalam batas rata-rata tim, dan berkontribusi terbesar untuk REB, karena keberadaan Lowhorn tidak berpengaruh pada rendahnya efisiensi, banyaknya TOV, serta kurangnya box out dan kontribusi REB yang dilakukan rekan-rekan timnya. Bayangkan sekuat apa tim Satria Muda yang memiliki SPP terproduktif dan terefisien di area dalam, namun dengan efisiensi para penembak tiga angka yang sama seperti musim lalu?(*)

Foto: Hariyanto

Komentar