ABL

Lini Busana A Bathing Ape (BAPE), tahun ini berulang tahun ke 25. Untuk merayakannya, BAPE merilis delapan koleksi kolaborasi khusus yang diantaranya menggandeng Spalding dan NBA. Merek streetwear kelas atas ini didirikan Tomoaki Nagao (Nigo) pada 1993 dengan ciri khas motif doreng dan logo siluet kera. Meski berawal dari proyek iseng serta menghuni sebuah kios kecil, kegigihan Nigo membuat lini busananya mendunia.

Pria yang berprofesi utama sebagai DJ dan presenter ini menjadikan masa kecil sebagai inspirasi utamanya dalam mendesain baju. Nigo  menceritakan masa kecilnya saat menjalani sesi wawancara dengan Lorraine Hahn di program CNN berjudul Talkasia pada 2006. Ia terlahir dari keluarga pekerja. Sang ibu berprofesi sebagai suster sementara ayahnya bekerja sebagai pengrajin papan pengumuman. Mereka kerap bekerja hingga larut malam, alhasil Nigo kecil terbiasa hidup sendiri di rumah. Ia pun lebih sering ditemani berbagai macam mainan warna-warni yang dibelikan kedua orang tuanya. Dari mainan-mainan itulah ia memiliki daya imajinasi dalam desain serta padanan warna yang diaplikasikan dalam menyusun komposisi koleksi busana BAPE.

Seragam basket Spalding x NBA x A Bathing Ape 25th Anniversary untuk memperingati 25 tahun BAPE.

“Awalnya, saya hanya membuat 100 buah kaos. Yang 70 saya berikan ke teman-teman sedangkan yang 30 saya jual di butik kecil,” kata Nigo dalam wawancara tersebut. Ia menyebut lokasi butiknya itu berada di Ura-Harajuku, Tokyo. Biaya sewa tempat dan modal awal ia dapatkan dengan meminjam dari rekannya. “Saya mengawali segalanya bersama Jun,” lanjutnya. Jun yang dimaksud adalah Jun Takahashi, pendiri lini busana Undercover yang baru-baru ini berkolaborasi dengan Nike untuk edisi terbatas Epic React Element 87.

Sementara bagi pengembangan produk, ia memiliki beberapa orang inspirator. Diantara semuanya, yang paling ia sanjung adalah pendiri lini busana Fragment Design, Hiroshi Fujiwara. Pria inilah yang memberinya nama panggilan “Nigo” yang berarti nomor dua dalam bahasa pergaulan Jepang. Nigo, Jun, dan Hiroshi kerap bercengkerama hingga larut pagi. Dari sana, Nigo dan Jun menimba ilmu dari seniornya itu.

Nama A Bathing Ape terinspirasi dari film “Planet of the Apes” yang dirilis pada 1968. Film itu hasil adaptasi novelis Prancis bernama Pierre Boulle dengan judul orisinal “La Planete de Singes” yang dirilis pada 1963. Ia pertama kali menonton film tersebut bersama Shinsuke Takizawa, pendiri lini busana Neighborhood. Pria yang disapa Shin itu juga acap memberi berbagai saran pada Nigo dalam merumuskan ide bisnis BAPE yang akan ia jalankan. Cerita ini disampaikan Nigo dalam sebuah wawancara dengan Pig Magazine yang diterbitkan September 2004.

Buddy Holly, Elvis Presley, dan Run DMC adalah musisi yang diidolai Nigo semasa muda. 

Meski BAPE adalah nama serapan dari luar Jepang, Nigo punya arti filosofis yang berhubungan dengan perilaku anak muda di Negeri Sakura. “Bisa jadi ini sarkas bagi sebagian orang. Nama ‘A Bathing Ape’ adalah kependekan dari pepatah Jepang "kera mandi di air hangat." Ini adalah referensi untuk generasi muda yang manja dan terlalu cepat puas dengan keadaan,” ceritanya kepada Lorraine Hahn. Ironisnya, konsumen terbesar BAPE datang dari anak-anak muda semacam itu.

Visi streetwear dengan mengusung gaya eksklusif sudah Nigo bawa sejak BAPE berumur muda. Dua tahun pertama, setiap kaos BAPE diproduksi hanya 30 buah. Setengah ia bagikan ke sahabat-sahabatnya sementara sisanya baru ia jual dalam butik yang awalnya bernama Nowhere. Nigo dan Jun kemudian membuka Nowhere, Ltd. pada 1997 dimana pembelinya hanya boleh membeli sepasang baju dengan ukuran yang pas di badannya. Peraturan tersebut bertujuan mengantisipasi adanya peniru desain busananya. Kisah ini diungkap Majalah Kansai Scene edisi September 2003.

Ada satu keistimewaan yang ditonjolkan Nigo setiap kali memproduksi koleksi busana BAPE. Ia memberikan perhatian menyeluruh terhadap kualitas jahitan, penggunaan kain berkualitas, detail, hingga penempatan label merek di bagian tersembunyi. Perhatian itu dilengkapi taktik pemasaran yang cenderung berisiko namun terbukti mampu menggaet pasar. Menurut Kansai Scene, strategi yang dilakukan Nigo tersebut menghadirkan cara baru untuk mengekspresikan diri bagi para pengguna BAPE di awal kehadiran merek tersebut.

Nigo berpose dengan patung figur Astroboy berukuran 1:1 miliknya.

Menitip-jualkan produk di butik lain jadi cara lazim memasarkan produk yang kerap dilakukan pelaku bisnis sandang. Bagi sebagian orang, cara ini disukai demi meluaskan pasar, namun tidak bagi Nigo. ia justru menjual BAPE hanya di butik kecilnya di Ura-Harajuku. Kebijakan tersebut juga memiliki motif lain, yaitu lebih mudah memantau proses produksi. “Saya harus melihat langsung setiap proses produksi hingga barang itu terpajang di rak toko. Ini sayasaya lak karena saya menyukainya, demi kepuasan pribadi saja. Tidak demi siapapun,” paparnya kepada CNN.

Eksklusivitas produk pun tercipta disini walau sejatinya hal itu merupakan dampak tidak langsung dari cara Nigo memuaskan diri sendiri. Para penikmat BAPE harus rela datang ke distrik yang jadi pusat fesyen Jepang itu demi membeli produk buatan Nigo.

Lewat kegigihan itu, ajakan kolaborasi berdatangan meski tidak semerta-merta Nigo menyetujuinya. Ia begitu selektif dengan siapa BAPE bekerja. Walau begitu, tawaran kolaborasi dengan Supreme sulit untuk ditolak. Pada tahun 2000, lini busana milik James Jebbia itu memodifikasi kaos ikonik mereka, Box Logo Tee, dengan motif doreng khas BAPE sebagai latar belakang tulisan Supreme. Kaos ini jadi buruan panas penggila streetwear di Jepang sebelum kedua merek itu berhasil menjajah streetwear dunia. Kaos Supreme x BAPE kini sudah mencapai harga AS$ 5000 (sekitar Rp75 juta) di situs jual beli Grailed.

Supreme x A Bathing Ape "Box Logo Tee", Japan Exclusive (2000)

Pepsi x A Bathing Ape (2001).

Kolaborasi paling mempengaruhi eksistensi BAPE terjadi pada 2001. “Saya tidak menduga perusahaan sebesar Pepsi mengajak kerja sama. Kami mencapai kata sepakat setelah melewati berbagai diskusi. Maka, jadilah pernak-pernik (merchandise) BAPE terbesar yang pernah kami buat,” ujar Nigo. Seluruh botol Pepsi yang dijual di Jepang pada tahun itu dibalut dengan label bergambar motif doreng khas BAPE. Dari sinilah demam BAPE merasuk ke anak-anak muda Jepang. Kolaborasi ini pula yang membuat Nigo berpikir bahwa BAPE punya kesempatan menembus pasar internasional.

Sejak itu, BAPE kerap menelurkan kolaborasi dengan pihak-pihak tertentu yang berhasil meyakinkan Nigo. Kolaborator paling berpengaruh awal tahun 2000-an diantaranya Brian Donelli (KAWS), G-Shock, Pharrell Williams, Rimowa, Converse, Marvel, N*E*R*D, hingga Kanye West. Complex menyanjung mereka sebagai kolaborator paling berpengaruh terhadap eksistensi BAPE di ranah streetwear dunia. Tak jarang mereka berkolaborasi lagi untuk merilis edisi eksklusif lainnya.

Keputusan terbesar Nigo untuk masa depan BAPE ia cetuskan di tahun ke-delapan. Pada 1 Februari 2011, Nigo memutuskan menjual 90,27% aset BAPE ke I.T Group, perusahaan milik seorang taipan asal Hong Kong, seharga AS$2,5 juta. Kabar itu mengejutkan berbagai pihak mengingat Nigo sudah menancapkan eksistensi begitu besar bersama lini busana yang sudah ia anggap sebagai anaknya. Beberapa pihak lagi menanyakan harga yang terbilang rendah bagi merek dengan pencapaian yang dianggap gemilang itu. Nigo tidak bergeming. Ia tetap pada keputusannya menjual BAPE.

Instingnya di ranah fesyen tetap bergelora. Ia lalu membuat lini busana lain bernama Human Made. Selain itu, menjual BAPE membuat Nigo lebih dalam melanjutkan kerja sama dengan Pharrell Williams. Mereka membuat lini busana Billionaire Boys Club yang sudah dirintis sejak 2005. Nigo juga masih menjalankan profesi DJ, pembawa acara, serta produser musik hip hop di Jepang. Bahkan, sejak 2017, Nigo menjabat sebagai Direktur Kreatif dari rumah busana Uniqlo.

Nigo adalah produser grup Teriyaki Boyz, pengisi lagu (soundtrack) film Fast n Furious: Tokyo Drift (2006)

Kini, Pharrell Williams dan Nigo adalah sahabat baik.

Nigo berpose untuk katalog Human Made edisi Sping/Summer 2017.

Foto: Heison Ho/Hypebeast, Becky Yee/Pig Magazine, 3Peat, Katalog Human Made SS17

Komentar