ABL

NBA selalu punya cara untuk memeriahkan liburan dengan cara yang bermanfaat di tiap jeda musimnya. Setelah menyelenggarakan NBA Africa Game untuk pertama kali pada 2015, kini liga tersohor sedunia itu kembali menggelar pertandingan ekshibisi. NBA mempertemukan lagi Team Africa (berisi pemain NBA asli Afrika maupun keturunan) dengan Team World (berisi pemain NBA dari seluruh dunia seperti Amerika Serikat dan Eropa) di Sun Arena at Time Square, Pretoria, Afrika Selatan, kemarin, 4 Agustus 2018 waktu setempat.

Team World pun memenangkan pertandingan 96-92.

Secara keseluruhan, NBA Africa Game sudah berlangsung tiga kali (2015, 2017, dan 2018). Tahun ini, NBA bekerja sama dengan NBPA—asosiasi pemain—menghadirkan pemain-pemain yang lebih segar. Joel Embiid, senter Philadelphia 76ers kelahiran Kamerun, salah satunya. Ia dan Bismack Biyombo, senter Charlotte Hornets kelahiran Republik Demokratik Kongo, menjadi dua kapten yang memimpin Team Africa dalam pertandingan “penting” tersebut.

Kok penting?

Tentu saja penting.

Mengapa?

Mari lihat sekilas pertandingan-pertandingan NBA. Dari sana saja semestinya penonton tahu kalau NBA didominasi pemain-pemain keturunan Afrika. Pemain-pemain berkulit hitam mengisi deretan peraih pemain terbaik NBA dalam satu dekade terakhir. Kehadiran pemain-pemain tersebut pada titik ini menjadi tampak penting dalam perkembangan olahraga permainan ciptaan James Naismith itu.

Kita Matungulu, direktur operasional NBA Africa, pernah menjelaskan tentang betapa pentingnya Afrika bagi NBA kepada Huffington Post. Menurutnya, Afrika memiliki sumber daya bertalenta yang dapat bersaing di NBA sejak lama. Mereka bahkan mampu masuk ke jajaran Hall of Fame dengan talenta yang dimilikinya. Lihat saja apa yang terjadi pada Hakeem Olajuwon dan Dikembe Mutombo. Dua pemain legendaris ini cocok menjadi contoh yang dapat menjelaskan hal tersebut. Maka, mereka pun semakin mendorong talenta-talenta itu dengan memotivasi anak-anak muda Afrika melalui program Basketball Without Borders (BWB), termasuk NBA Africa Game.

Kendati demikian, dalam menyukseskan program yang mereka miliki, NBA tentu saja membutuhkan sosok-sosok yang bisa menjadi contoh. Sebagaimana sebuah cerita yang memotivasi, harus ada tokoh yang bisa diidolakan. Mereka memastikan para talenta muda memiliki “kakak” yang bisa menginspirasi untuk terus maju. Itulah mengapa NBA menghadirkan pertandingan ekshibisi dan program BWB dengan menggandeng pemain-pemain asli Afrika maupun keturunan seperti Joel Embiid.

Bagaimanapun, Embiid sendiri sebenarnya adalah contoh sukses dari program BWB. Sebelum masuk ke NBA pada 2014, ia sempat mengikuti BWB dulu pada 2011.

“Berada di sini dengan anak-anak lain yang lebih hebat dari saya itu berat. Saya ini pemalu, tapi di akhir acara saya justru merasa nyaman. Saya melewati hari-hari yang hebat yang membuat saya bisa menunjukkan potensi saya. Saya mendapatkan beasiswa ke Amerika Serikat. Selain itu, saya juga mendapatkan pengalaman yang berharga dengan yang lainnya. Para pelatih dan semuanya, mereka menyenangkan,” ujar Embiid mengenang kembali program yang diikutinya.

Sebagai seorang alumni BWB, karir Embiid di NBA terbilang sukses meski ia harus cedera di dua musim pertamanya. Embiid bahkan tidak sempat bermain di satu pertandingan pun kala itu. Namun, cedera itu tidak juga menurunkan motivasinya untuk terus berproses. Dengan usahanya, ia pun berhasil kembali pada 2016-2017 dan melakukan gebrakan yang membuatnya semakin dijuluki “The Process”. Embiid sedikitnya mengoleksi rata-rata 20,2 poin, 7,8 rebound, dan 2,1 asis per pertandingan tahun itu.

Dengan slogan “Trust the Process”, Embiid semakin sering tampil di pertandingan juga di media-media massa. Ia menjadi semacam media darling yang selalu menarik diburu pewarta. Media sangat menyenanginya bukan hanya karena kehebatannya di lapangan, tetapi juga  pembawaan dirinya di luar itu yang cenderung nyeleneh.

Namun demikian, Embiid tetaplah haus akan kemenangan. Ia bahkan tidak betah berlama-lama istirahat untuk memulihkan cederanya. Ia senang bermain basket dan menargetkan tahun depan ingin menjadi pemain terbaik di NBA. Ia ingin menjadi lebih baik dari nama-nama besar seperti LeBron James, Kawhi Leonard, dan pemain lain yang menjadi langganan nominasi pemain terbaik. Maka, dengan semangatnya, ia bisa menjadi sosok yang menginspirasi anak-anak Afrika untuk menjalani hidup yang sama. Ia adalah salah satu masa depan NBA. Salah satu wajah NBA yang cocok untuk menarik talenta-talenta muda Afrika keluar dari sarangnya.

Jika melihat latar belakang itu, tidak heran jika NBA kini membawa Embiid ke Afrika untuk mengikuti pertandingan ekshibisi dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan ragam sosial dan budaya di sana. NBA melakukan itu untuk menarik perhatian dunia, terutama Afrika, sebagai benua yang menyimpan potensi-potensi besar liga. Entah itu pemain, pelatih, atau penggiat lainnya yang bisa membantu mereka mengembangkan NBA menjadi bukan sekadar kompetisi basket, melainkan juga banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan. Karena sesuai slogan mereka, NBA adalah tempat di mana sesuatu yang luar biasa terjadi (where amazing happens).

Sejauh ini, NBA memang telah membuat keajaiban. Para penggiat mereka, terutama para pemain, telah menggunakan kebesarannya untuk membuat komunitas mereka semakin berkembang. LeBron James beberapa waktu lalu membuka sekolah untuk anak-anak yang membutuhkan. Derrick Rose  meluncurkan program beasiswa untuk membantu para mahasiswa yang membutuhkan kuliah sesuai mimpinya. Donovan Mitchell belakangan ini diketahui membayar biaya reparasi iPhone seorang asing yang ditemuinya di iPhone Store karena orang itu tak mampu membayarnya.

Bismack Biyombo, penggawa Team Africa di NBA Africa Game 2018, juga sudah lama berkecimpung dengan hal yang sama. Ia yang lahir dan besar di Afrika tahu betul bagaimana sulitnya hidup dalam kemiskinan sehingga ia merasa orang lain tidak harus bernasib sama. Ia pun membuka program beasiswa untuk anak-anak di Kongo berikut membangun lapangan supaya mereka bisa berkegiatan. Itu belum lagi dihitung dengan program pengembangan yang membantu orang-orang di sana untuk memiliki keterampilan hidup.

Selama di NBA, nama Biyombo memang tidak setenar Embiid. Namun, sebagai atlet dari Afrika, ia juga bisa menjadi sumber inspirasi yang berguna untuk menarik potensi yang tersimpan di benuanya. Bagaimanapun, perjalanannya untuk sampai ke NBA bukanlah hal mudah. Biyombo harus melewati berbagai hal yang sulit untuk sampai ke lapangan megah yang diimpikannya.

Lantas, dengan latar belakang-latar belakang yang mereka punya, sekiranya NBA Afrika Game ini semakin tampak penting untuk digelar. Seperti juga dikatakan Matungulu sebelum ini, NBA perlu membawa sosok-sosok pentingnya ke Afrika agar anak-anak di sana mendapatkan suntikan motivasi dan inspirasi untuk mau bermimpi. Pada dasarnya, jika ditarik simpulannya, NBA Africa Game ada untuk meningkatkan perhatian orang-orang kepada olahraga permainan.

Foto: NBA

Komentar