Penyelenggaraan FIBA 3x3 Challenger Batam berhasil menunjukkan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah turnamen internasional. Selain itu ada maksud tersendiri dari gelaran ini, yang diungkapkan oleh Sekjen DPP PERBASI Nirmala Dewi. Sayangnya semua wakil Indonesia di ajang ini harus gugur di babak penyisihan. 

Keikutsertaan dan menjadi tuan rumah 3x3 Challenger merupakan upaya jangka panjang DPP PERBASI dalam meningkatkan peringkat Indonesia melalui akumulasi poin dari kompetisi resmi Federasi Bola Basket Internasional (FIBA). Ini bagian dari strategi PERBASI dalam mengumpulkan poin peringkat dunia demi membuka peluang tampil di Olimpiade.

"Kalau kita ingin menuju Olimpiade seperti yang menjadi mimpi PERBASI, kita harus mengumpulkan banyak poin," ungkap Nirmala. "Poin itu bisa didapat dengan menjadi tuan rumah maupun mengikuti turnamen-turnamen seperti ini. Menang tentu memberikan poin lebih besar, tetapi ikut bertanding juga tetap menghasilkan poin."

Masyarakat sangat antusias menyaksikan pertandingan. Pada hari pertama pelaksanaan 3x3 Challenger, 25 Juli 2026, venue di Alun-Alun Engku Putri penuh sesak. Tiket yang disediakan terjual habis. Bahkan banyak masyarakat Batam yang menyaksikan aksi para pebasket 3x3 dunia dibalik pagar. Ini karena mereka penasaran ingin saksikan 3x3 Challenger namun tiket sudah tidak tersedia.

Ketua DPD PERBASI Kepulauan Riau, Suhadi, menilai bahwa penyelenggaraan FIBA 3x3 Challenger Batam berhasil menunjukkan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah turnamen internasional.

Ia mengatakan sejumlah pemain dunia memberikan apresiasi terhadap kualitas lapangan, penyelenggaraan, dan fasilitas pertandingan di Batam yang dinilai telah memenuhi standar FIBA.

Menurut Suhadi, keberhasilan tersebut menjadi modal untuk mengupayakan Batam kembali menjadi tuan rumah FIBA 3x3 Challengers pada 2027. Dengan demikian, Indonesia memiliki lebih banyak kesempatan menggelar turnamen internasional yang turut mendukung pengumpulan poin atlet nasional.

"Harapan kami tentu pemerintah Provinsi, pemerintah Kota, dan DPP PERBASI bisa bersama-sama melanjutkan penyelenggaraan seri ini tahun depan," harap Suhadi.

Pada pelaksanaan 3x3 Challenger 2026 di Batam, DPP PERBASI menurunkan tiga tim. Mereka adalah Tim Balige, Waisai, dan Ambon. Tujuannya agar semakin banyak atlet memperoleh pengalaman sekaligus berkontribusi terhadap perolehan poin Indonesia. Ia menegaskan hasil pertandingan pada satu turnamen bukan menjadi ukuran utama keberhasilan pembinaan atlet.

Nirmala mengatakan setelah Batam, tim Indonesia masih akan mengikuti sejumlah seri FIBA 3x3 Challenger di negara lain. Ini sebagai bagian dari program pengumpulan poin sekaligus persiapan menghadapi Asian Games Nagoya-Aichi 2026.

"Kami berharap dari kompetisi-kompetisi ini peringkat Indonesia bisa terus meningkat sehingga peluang bersaing di level dunia juga semakin besar," terangnya.

Tim Ambon yang diperkuat pemain IBL seperti Xavier Cannefax, Kevin Moses Eliazer Poetiray, dan Daniel Tunasey Salamena gugur di babak kualifikasi. Mereka kalah 12-21 dari Taipei WanBao, dan menyerah 14-21 dari Kharkhorum. Sementara tim Balige yang diperkuat Daffa Dhoifullah dan Erick Ibrahim Junior dihancurkan oleh Miami (6-21), dan Liberec (9-21). Terakhir ada tim Waisai yang memiliki daftar pemain berisi Justin Jaya Wiyanto, Mohammed Aymane Garudi Arip, dan Aven Ryan Pratama menyerah dari Ub (8-21), dan Kaunas VDU (9-21). Tim Balige dan Waisai merupakan tim yang dibentuk guna persiapan menyambut Asian Games 2026. (tor)

Foto: fiba3x3.com

Komentar