Segala sesuatu tentang NBA tampaknya memang selalu menggiurkan. Berbagai pernak-pernik seperti sepatu, poster, hingga seragam (jersey) tim peserta menjadi primadona banyak orang. Sejak pertama kali didirikan pada 1946, tim-tim peserta liga basket terbesar di Amerika Serikat ini selalu menyajikan desain seragam yang menarik. Desain seragam itu pun jadi kebanggaan dari kota asal tim tersebut.

Menelisik seragam partisipan NBA bisa jadi menyenangkan. Setiap tahun, mereka merilis berbagai seragam dengan varian warna dan ornamen berbeda. Inspirasi desain tersebut juga datang dari beragam hal. Bahkan pemilihan warna serta huruf pun tak bisa sembarangan. Ditambah lagi produksinya yang terbatas membuat seragam partisipan NBA ini layak dikoleksi karena ada cerita menarik di belakangnya.

 

Di situlah posisi Mitchell & Ness berada. Perusahaan asal Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat ini punya sederet rilisan ulang seragam klasik tim partisipan NBA. Mereka sengaja membuatnya semirip mungkin. Detail seperti warna, huruf, hingga ornamen garis jadi poin penting yang membuat merek ini diminati para penggemar NBA garis keras.

Terkenal sebagai pemasok pernak-pernik NBA klasik, perjalanan panjang pun telah mereka lalui. Bahkan perusahaan yang didirikan pada 1904 ini pernah dihantui bayang-bayang kebangkrutan.

Perusahaan Kebanggaan Philadelphia

 

Mitchell & Ness Nostalgia Co. (M&N) adalah sebuah perusahaan kepemilikan pribadi yang didirikan oleh Frank Mitchell dan Charles Ness. Frank Mitchell adalah mantan juara tenis dan seorang pegulat sementara Charles Ness adalah pegolf asal Skotlandia. Mereka mendirikan perusahaan Mitchell & Ness Sporting Goods ketika karir mereka di olahraga mulai meredup.

Di awal berdiri, perusahaan ini menjual raket tenis dan perlengkapan golf. Semua peralatan tersebut dibuat dengan tangan berbahan dasar kayu curian dari Inggris yang diimpor menggunakan kapal kargo Skotlandia. Sepuluh tahun kemudian, mereka melebarkan bisnis dengan memproduksi seragam kasti dan sepak bola amerika (american football).

Klien pertama seragam olahraga M&N adalah tim kasti Philadelphia Athletics yang membutuhkan seragam untuk liga profesional 1938.  Dua tahun kemudian, Philadelphia Phillies juga menggunakan jasa M&N sebagai penyedia seragam kasti mereka. Selang lima tahun kemudian, hampir semua seragam tim kasti SMA dan universitas di Philadelphia menggunakan label Mitchell & Ness Sporting Goods.

Dipimpin oleh Karyawan Bagian Penyedia Barang

 

Kepemimpinan Frank Mitchell dan Charles Ness terpaksa berhenti pada 1955 karena kondisi fisik yang tak memungkinkan. Setelah itu, posisi mereka digantikan oleh Sisto Capolino. Sisto adalah imigran Italia yang bertugas sebagai juru penyedia barang selama belasan tahun. Sisto dibantu anaknya, Peter Capolino, untuk menjalakan bisnis yang sedang naik daun ini. Saat itu, Peter masih berusia 10 tahun. Kini, Peter Capolino menjabat sebagai direktur menggantikan ayahnya.

Sisto Capolino pernah membuat sebuah keputusan yang justru merugikan perusahaan. Di awal 1980-an, ia ingin mengembangkan M&N lebih jauh lagi dengan memproduksi seragam hoki es dan ski. Karena perhitungan yang kurang matang, keputusan ini justru membawa kerugian besar. Seragam hoki es dan ski besutan M&N kurang laku di pasaran.

M&N Diambang Kebangkrutan dan Datangnya Keberuntungan

 

Tak hanya itu, perkembangan bahan seragam baseball juga telah bergeser. Tahun 1973, tim kasti di liga Amerika Serikat telah menggunakan seragam berbahan nilon, sementara M&N telah memasok gulungan kain wol flannel sepanjang tiga belas ribu yard (sekitar 12.000m) yang akhirnya tak terpakai. “Saat itu (1983) kami nyaris bangkrut. Kami memecat 100 pegawai dan menutup dua toko,” ungkap Peter Capolino Kepada Detroit Daily Press.

 

Peter Capolino menyampaikan apa yang membuat M&N bertahan kepada CNN tahun 2003 lalu. “Saat 1985, datang seseorang membawa seragam Pittsburg Pirates tahun 1960 dan St. Louis Browns tahun 1949 yang rusak dan usang. Ia bertanya apakah kami bisa membenahinya atau tidak. Di situ kami menemukan harapan karena kami bisa melakukannya,” kata Peter.

Dari permintaan pelanggan itu, akhirnya M&N punya visi baru. Mereka adalah perusahaan yang memproduksi seragam tim kasti klasik yang terbuat dari wol flannel. Seperti apa yang mereka lakukan berpuluh tahun lamanya. Keseriusan itu ditunjukkan dengan merekrut Bob Downes. Ia adalah teman baik Peter sekaligus seorang penggemar garis keras kasti.

 

Downes dan Peter memulai perjalanan mereka dengan mengumpulkan dokumen liga kasti Amerika Serikat seperti majalah, video, artikel dan lainnya. Dokumen itu digunakan sebagai dasar pembuatan ulang seragam yang dipakai oleh tim-tim partisipian.

Bahan wol flannel using itu pun kini mampu diolah dengan baik. Koleksi pertama seragam kasti klasik dari M&N laku hanya dalam semalam. Begitu pun dengan koleksi kedua, ketiga, dan seterusnya. Ini terjadi sepanjang tahun. Fenomena ini dicatat dengan baik oleh Sports Illustrated yang membuat artikel tentang M&N pada 1987. Dua tahun kemudian, The New York Times membuat liputan khusus tentang seragam klasik rilisan M&N. Sejak saat itu, popularitas Mitchell & Ness sebagai penyedia seragam klasik kian tak terbendung.

Jadi Baju Wajib Penikmat Kultur Hip Hop

 

Tak ditemui data pasti kapan pertama kali M&N menjual seragam klasik tim NBA, tapi atlet dan musisi membikin merek ini semakin populer. Momen pertama datang pada 1993 ketika duo musisi Outkast menggunakan seragam kasti dari M&N. Tahun 1999, Allen Iverson jadi bintang sampul majalah Slam dengan seragam klasik Philadelphia 76ers 1966-1967.

M&N patut berterima kasih kepada Big Rube. Rapper kawakan asal Philadelphia ini adalah seorang penggemar berat produk M&N sejak remaja. Ia sempat bertemu Peter Capolino pada 2001 dan mengatakan bahwa produknya akan diterima di kultur hip hop. Big Rube kemudian memberikan Sean “Diddy” Comb sebuah jaket Philadelphia Pillies berwarna biru. Tak disangka, Diddy menggunakannya ketika memandu American Music Awards 2001.

 

Tak lama, Jay-Z muncul dengan seragam klasik M&N untuk tim Washington Redskins pada 1947 ketika menjalani tur Hard Knock Life. Ia juga menggunakan seragam seragam klasik San Diego Padres pada 1942 di video klipnya berjudul Girls, Girls, Girls. Sejak saat itu, seragam klasik jadi baju luaran favorit pada penggiat kultur hip-hop.

LeBron James dan M&N

 

Pemain andalan Cleveland Cavaliers ini punya kenangan tersendiri dengan M&N. Cerita ini diungkapkan agennya, Rich Paul, kepada ThePostGame. “Waktu itu James masih 17 tahun dan sedang dalam perjalanan laga semifinal (Final Four) di Atlanta. Ia melihat seseorang menggunakan seragam klasik Warren Moon dan Nike Air Force 1. Pandangannya terhenti pada pria itu,” ungkap Paul.

Saat itu, James tengah menggunakan seragam klasik Michael Vick. Seakan bertemu dengan teman sehobi, mereka pun berbincang dan saling bertukar nomor telepon. Pada James, pria tersebut mengaku seorang penjual seragam basket klasik di jalanan. “Sebagai bentuk dukungan, pria itu memberi seragam klasik Magic Johnson saat di Lakers dan seragam Joe Namath Ram,” pungkas Paul kepada ESPN.

“Setelah itu, mereka tak berhenti saling bertukar cerita mengenai hobi mengoleksi seragam basket klasik. Hingga akhirnya pria itu jadi agen profesional LeBron James sampai sekarang. Ya, pria itu adalah saya sendiri,” imbuh Paul sembari mengenang awal kisah pertemuannya dengan James.

Penyedia Seragam Klasik Andalan Amerika Serikat

 

Meski pernah di ambang kebangkrutan, Mitchell & Ness kini telah bangkit. Mereka menguasai pasar seragam klasik dengan kualitas terbaik. Sajian mereka nyatanya mampu memuaskan banyak kalangan hingga dipakai oleh atlet dan musisi hip hop.

Mitchell & Ness tercatat telah mengantongi lisensi penyedia pernak-pernik seragam liga-liga besar Amerika Serikat: NBA (basket), MLB (baseball), NFL (sepak bola amerika), NHL (hoki es), dan liga olahraga tingkat kampus nasional.

Sumber FotoL: Mitchell & Ness Archieve, The Hundreds, Getty Images, Sports Nostalgia

Komentar