Stan Van Gundy melontarkan kritik cukup tajam terhadap mantan timnya. Ia menilai Miami Heat tidak lagi menjadi tim yang istimewa sejak berakhirnya era Big Three pada 2014. Pencapaian playoff justru menutupi performa Heat yang biasa-biasa saja di musim reguler.
Komentar tersebut disampaikan Van Gundy saat tampil dalam acara Run It Back. Ia menyoroti bagaimana Heat beberapa kali mampu membuat kejutan di playoff. Tetapi tidak konsisten menjadi kekuatan utama di Wilayah Timur.
“Tim ini sebenarnya pernah mencatatkan beberapa pencapaian mengejutkan di babak playoff. Namun, hal itu justru menutupi fakta bahwa sejak era Big Three berakhir, mereka merupakan tim yang terbilang biasa-biasa (medioker),” ucap Van Gundy.
Baca juga: Lakers Hajar Heat, Giannis Tak Ragu Puji Luka Doncic
Ia menyinggung dua perjalanan Heat hingga Final NBA. Heat mencapai Final NBA 2020 dalam sistem gelembung di Orlando. Kemudian kembali menembus Final NBA 2023 setelah memulai playoff sebagai unggulan kedelapan melalui jalur play-in.
Tetapi dua Final NBA itu tidak berakhir dengan manis bagi Heat. Dalam Final NBA 2020, Heat kalah dari Los Angeles Lakers 4-1. Setelah itu kembali tumbang di Final NBA 2023 melawan Denver Nuggets dalam lima pertandingan.
“Pencapaian-pencapaian tersebut seolah menutupi kenyataan bahwa mereka sebenarnya sudah tidak menjadi tim hebat sejak cukup lama,” kata Van Gundy yang menjadi kepala pelatih Heat pada 2003-2005 itu.
Menurut Van Gundy pencapaian tersebut membuat publik melupakan bahwa Heat sudah cukup lama tidak benar-benar menjadi tim dominan. Terutama setelah berakhirnya era big three yang dipimpin oleh LeBron James.
Baca juga: Giannis dan Adebayo Kompak, Heat Akhirnya Menang
Statistik juga memberikan gambaran mengenai penilaiannya. Sejak kepergian LeBron pada 2014, Heat hanya sekali membukukan setidaknya 50 kemenangan dalam satu musim reguler. Catatan terbaik itu terjadi pada 2021-2022 ketika Heat finis dengan rekor 53-29 dan menjadi unggulan pertama Wilayah Timur.
Van Gundy sendiri pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan Heat. Ia menangani Heat sebagai pelatih kepala sejak 2003 hingga 2005. Selama periode tersebut, ia membukukan 112 kemenangan dan 73 kekalahan dalam kompetisi reguler.
Secara keseluruhan, persentase kemenangan Van Gundy bersama Heat mencapai 60,5 persen. Angka tersebut menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah kepelatihan Heat. Van Gundy kemudian mengundurkan diri pada Desember 2005 dan posisinya diambil alih Pat Riley.
Kini Heat memasuki musim ke-19 di bawah pelatih Erik Spoelstra. Heat melakukan perubahan besar dengan mendatangkan Giannis Antetokounmpo. Tetapi masih belum memenuhi harapan karena Heat saat ini hanya meraih 2-5. (rag)
Foto: NBA





0822 3356 3502