Lonzo Ball menjadi sensasi ketika NBA Draft 2017, dan dia dinobatkan sebagai pilihan kedua secara keseluruhan. Tetapi siapa yang menyangka bahwa karier Lonzo di NBA tidak semeriah cerita awalnya, dan kini berada di ambang kehancuran.
Lonzo Ball merupakan pilihan kedua dalam Draft NBA 2017, dan menjadi pemain Los Angeles Lakers, setelah era Kobe Bryant. Dia memang memiliki banyak pengkritik, tetapi bahkan mereka yang paling vokal pun tak menyangka bahwa ia tidak memiliki karier NBA yang hebat.
Hampir satu dekade kemudian, Ball menjadi pemain bebas transfer meskipun banyak tim yang membutuhkan bantuan di posisi guard. Pemain berusia 28 tahun itu sempat bermain singkat untuk Cleveland Cavaliers sebelum ditukar ke Utah Jazz menjelang batas waktu transfer musim lalu. Jazz kemudian melepas Ball setelah transfer tersebut.
Lonzo, yang masih berusia 20-an, merupakan garda berkualitas yang mampu bermain sebagai guard combo. Sayanya ia tidak memiliki tim selama beberapa bulan, dan awal musim baru sudah di depan mata. Menurut Basketball Forever, tanda-tanda mulai menunjukkan bahwa nasib Ball sudah tidak dapat dihindari.
Karier Lonzo seperti terhenti, setelah cedera lutut serius, yang membuatnya absen selama lebih dari seribu hari. Ia yang tadinya merupakan salah satu point guard muda berbakat di liga, kini harus membuktikan lagi bahwa ia adalah pemain yang sudah sembuh dari cedera parah. Karena sekarang tampaknya tim-tim hampir tidak tertarik padanya.
"Cleveland kemudian menukarnya ke Utah pada batas waktu perdagangan, di mana Jazz melepasnya sehingga ia menjadi pemain bebas," tulis Basketball Forever. "Dan sekarang, berbulan-bulan kemudian, Ball tetap belum mendapatkan kontrak dan tampaknya tidak ada minat dari NBA, meskipun baru berusia 28 tahun. Setelah absen di musim 2022-23 dan 2023-24 dan hanya tampil dalam 70 pertandingan selama dua musim berikutnya, daya tahan tubuhnya menjadi pertanyaan terbesar seputar masa depannya."
Setelah pulih dari beberapa operasi lutut besar, Ball hanya bermain 35 pertandingan untuk Cleveland musim lalu, dengan rata-rata 4,6 poin per pertandingan (paling rendah dalam kariernya) dan hanya mencetak 30,1 persen dari lapangan serta 27,2 persen dari tembakan tripoin.
Kembali ke masa lalu, di mana Lonzo Ball dipandang sebagai wajah franchise dan pemain yang akan mengangkat Lakers kembali ke status penantang gelar, setelah era Kobe Bryant, dan sampai LeBron James akhirnya datang ke Los Angeles setahun kemudian.
Tentu masih ingat di mana Patrick Beverley, yang saat itu berposisi sebagai garda LA Clippers, berteriak kepada penonton Lakers saat ia mengawal ketat Ball yang masih rookie. Pasalnya Lonzo Ball, garda setinggi 2,01 meter tersebut meledak di pertandingan keduanya, mencetak 29 poin, 11 rebound, dan 9 asis.
Ball mengakhiri musim perdananya dengan beragam opini dari publik, tetapi tidak dapat disangkal bahwa Lakers memiliki calon bintang masa depan.
Ball menunjukkan potensi yang lebih besar di musim berikutnya saat bermain bersama LeBron James, di mana kedua pemain mencetak tripel-dobel dalam kemenangan atas Charlotte pada bulan November, menjadi duo pertama sejak Magic Johnson dan Kareem Abdul-Jabbar yang berhasil mencapai prestasi tersebut.
Sayangnya itu hanya momen-momen yang akan dikenang dalam karier Lonzo Ball. Karena masih harus dilihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengingat usianya dan kemampuan dasarnya, ada kemungkinan tim lain akan memberinya kesempatan. (tor)
Foto: Instgaram Lonzo Ball





0822 3356 3502