AZRUL ANANDA
BIODATA, PROFIL PENULIS
Azrul Ananda merupakan founder sekaligus Direktur Utama PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia. Ia mengenyam pendidikan di Ellinwood High School. Selama di Kansas penerima beasiswa pertukaran pelajar ini tinggal di rumah orang tua angkat yang juga bergelut di dunia jurnalistik. Lulusan California State University, Sacramento itu adalah sosok dibalik megahnya liga basket profesional National Basketball League (NBL) Indonesia dan Women’s National Basketball League (WNBL) Indonesia. Hingga kini, ia terus mengembangkan liga basket pelajar terbesar di Indonesia bernama Developmental Basketball League (DBL).
Slovenia Sidoarjo
Tahun 2014, saya dan sejumlah teman ikut trip gowes ke Italia, mengikuti rute Giro d'Italia, salah satu lomba terbesar di dunia. Perjalanan dimulai da...
Sampai Bertemu Bulan Januari
Rencana Pelaksanaan Honda DBL Musim ke-17 Tidak terasa, DBL telah menjadi kompetisi yang begitu besar. Kompetisi SMA ini adalah ajang olahraga terbesar di Indo...
DBL Siap Kami Siap
Kepada seluruh partisipan DBL, kami menyadari betapa galaunya perasaan semua sekarang. Tahun 2020 ini seharusnya jadi tahun istimewa kita semua. Pada 4 Juli ini...
RIP Kobe Bryant, Kesedihan walau Bukan Penggemar
Entah dunia ini hendak jadi seperti apa. Sekarang, kita harus selalu siap-siap bangun pagi dan disambut oleh kabar buruk. Kebakaran, virus, banjir, dan terakhir...
Percaya Proses ala Sacramento Kings
Beberapa tahun lalu, Philadelphia 76ers membuat kebijakan yang super berani. "Mengorbankan" beberapa musim demi mendapatkan pemain-pemain muda terbaik via NBA D...
Azrul Ananda: Panggung Kesempatan DBL Camp
Masa seru tahunan itu kembali tiba. Salah satu masa yang paling saya tunggu setiap tahunnya. Yaitu masa berlangsungnya DBL Camp, di saat sekitar 300 wakil SMA t...
KPAI dan Djarum: Sebuah Warning
Ramai banget. Pembicaraan dan perdebatan mengenai Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan PB Djarum. Kita bersyukur akhirnya ada penyelesaiannya. Sepe...
Sepatu Merdeka
Waktu masih kecil, keluarga saya belum punya banyak uang. Saat SD, ibu saya hanya mau membelikan sepatu harga di bawah Rp 20 ribu sepasang. Biasanya merek Kasog...