TIMNAS

Sembilan kali final, delapan kali kalah, sekali juara, sebagai pemain. Tujuh kali juara, sebagai eksekutif. Satu-satunya pemain yang mendapatkan MVP Final NBA meskipun kalah. Pemain yang menjadi logo siluet NBA. Jerry West, nama legenda itu.

Apabila kita gaungkan pertanyaan tentang lima pemain terbaik NBA sepanjang masa, sesederhana kita merangkumnya dengan nama-nama: Michael Jordan, Kareem Abdul-Jabbar, Bill Russell, Magic Johnson, Wilt Chamberlain, Larry Bird. Kisaran namanya tak akan jauh dari nama-nama tersebut. Tapi Jerry West? Paling hanya muncul di peringkat 15 besar atau 20 besar.

Tapi Jerry West beruntung, sekalipun ia hidup dan jadi tumbal kedigdayaan Celtics era Bill Russell. Setidaknya, ia tak harus merasakan penghakiman publik yang begitu kejam. Saya hanya membayangkan, dengan rekor 1-8 di Final NBA, penghakiman semenyedihkan apa yang akan ia terima seandainya ia hidup di zaman sekarang?

Kini West sedang duduk anteng di kursi eksekutif Golden State Warriors. Portofolionya gemilang selepas pensiun sebagai pemain. Tujuh kali berhasil membawa tim yang dibawahinya jadi juara (sebagian besar Los Angeles Lakers), bahkan dua kali dapat gelar Executive of the Year.

Begitu terbalik dengan karir bermainnya yang dipenuhi dengan kegagalan. Bahkan tin Warriors yang dibentuknya, tahun ini mencatatkan rekor musim reguler terbaik sepanjang masa.

Kini, menjelang laga ketujuh, kemenangan Warriors akan memberikan gelar kedelapan baginya sebagai eksekutif. Satu-satunya yang bisa menggagalkannya adalah seorang pria 31 tahun, yang memiliki cerminan karir kurang lebih mirip seperti dirinya: LeBron James.

LeBron James kemungkinan besar akan menjadi MVP Final. Apapun hasil yang didapatkan Cleveland Cavaliers. Apabila ia kalah dan mendapat gelar MVP itu, ia akan jadi yang kedua setelah Jerry West.

Saya jelas tak sepakat apabila ada yang berasumsi kalau Lebron James adalah primadona NBA, dan final kali ini dibuat sedemikian rupa supaya menguntungkannya.

Saya rasa tak ada satupun pemain NBA di dalam sejarah yang mendapat hujatan segila LeBron James. Cobalah tengok kolom-kolom komentar di video-video yang memuat konten LeBron James. Banyak sekali cercaan, jauh lebih banyak daripada Kobe Bryant sekalipun. Belum lagi cercaan di media sosial lain.

Tapi saya tak hendak bersimpati atas LeBron. Saya mau mengajak kita semua untuk melihat karir LeBron lebih dalam, sebelum ia menua dan kita tak punya waktu untuk mengapresiasinya.

Sedari awal ia sudah dibebani ekspektasi, menjadi model sampul muka majalah basket, bahkan sebelum ia bermain di NBA. Dan kita tahu, ia bermain di NBA selepas lulus SMA, seperti halnya Kevin Garnett, Kobe Bryant, dan Kwame Brown.

Di musim rookienya ia berhasil jadi Rookie of The Year, membuat rataan 20-5-5 (poin, rebound, assist) yang menempatkannya setara Michael Jordan dan Oscar Robertson. Di usia 21 tahun, ia berhasil menembus rataan poin 31 PPG (pemain termuda yang berhasil melakukannya). Di usia 22 tahun, ia membawa Cavaliers masuk Final NBA, dengan supporting cast yang setara NBA D-League.

Selama tujuh tahun bersama Cavs dari 2003 hingga 2010, ia seorang berhasil mengangkat Cavaliers jadi tim elit di NBA, sekalipun ia hanya didukung pemain-pemain kelas dua dan tiga. Sayang, saat itu tren supertim seperti Lakers dan Boston Celtics tak memberikannya kesempatan untuk cicipi gelar juara, tapi setidaknya dua MVP di tahun 2009 dan 2010 cukup jadi penghiburnya.

Tibalah hari ketika LeBron mencetuskan "The Decision", meningglkan Cavs untuk bergabung ke Miami Heat bersama Dwyane Wade dan Chris Bosh. Anda tentu ingat betapa marahnya publik Ohio, Cleevland atas keputusannya ini. Bukan cuma mereka, mayoritas penggemar basket turut terpecah dua atas keputusannya ini.

Tapi toh pada akhirnya, selepas pergantian dekade ia mampu enam kali masuk final NBA dari tahun 2011 hingga 2016. Dua gelar MVP tambahan ia dapat di tahun 2012 dan 2013. Begitu juga dua kali cincin juara di tahun yang sama. Sisanya? Tumbang saat melawan tim-tim dari Barat.

Alhasil, hujatan dengan cepat menyerbu. Ia dikritik sebagai pecundang dan semacamnya. Belum lagi kemunculan Stephen Curry sebagai anak emas di NBA, turut menyudutkan posisi LeBron James di mata fans-fans basket karbitan. Seolah-olah kemagisan three point Steph Curry adalah segalanya, dan Lebron pun diolok-olok karena jump shooting-nya tak begitu bagus. Dan terbawa hingga Curry jadi pilihan absolut sebagai MVP NBA musim ini.

Tapi saya bersyukur, LeBron kembali berhadapan dengan Curry di final tahun ini. Akhirnya terbukti, bahwa pertanyaan yang dilontarkan LeBron tentang arti "valuable" dalam istilah Most Valueable Player beberapa waktu lalu adalah nyata. Curry tak tampak seperti seorang MVP NBA. Sementara LeBron tengah menyuguhkan sebuah performa terbaik dalam sejarah Final NBA. Selain tembakan tiga angka yang dahsyat, value Curry tak terasa.

"Apakah laga ketujuh nanti akan jadi penentu legacy anda?" Tanya seorang wartawan pada sesi wawancara semalam.

"Tidak," tegas LeBron.

"Anda sama sekali tak merasa seperti itu?"

"Tidak."

LeBron dengan mantap menyatakan kalau laga ketujuh ini tak memberi efek apapun untuk legacy-nya. Namun menurut saya, laga ini sangat penting. Bisa menjadi pembeda yang membuat mata publik terbuka.

Seandainya ia menang, ia akan membawa gelar juara pertama bagi kota Cleveland dalam 52 tahun terakhir. Ia akan menjadi ikon nomor satu Cleveland apabila berhasil. Kemenangan akan membuat rekor finalnya di dekade ini menjadi 3-3. Membuatnya setara dengan Larry Bird dengan tiga gelar, dan akan melegitimasi posisinya sebagai small forward terbaik sepanjang masa. Juga berarti ia mengalahkan Warriors yang memikul rekor regular season terbaik sepanjang masa.

Apabila ia kalah? Berarti ia akan menuju rekor final 2-4 di dekade ini, dan 2-5 dalam karirnya. Sekaligus juga tiga kali beruntun kalah di final, dan melegitimasi semua tuduhan konspirasi atas Cavaliers, bahwa dua kemenangan beruntun mereka atas Warriors berkat bantuan NBA. Ia juga kehilangan kesempatan untuk mengalahkan tim terbaik sepanjang masa. Kalau soal hujatan, ya tentu makin tak terbendung.

Selama 13 tahun berkarir, ia selalu menunjukkan grafik yang stabil, konsisten, dan banyak yang luput mengapresiasinya. Ia telah menempuh banyak pilihan kontroversial, yang penuh risiko. Dan pertandingan esok adalah yang terpenting, yang dapat menjadikannya sejajar dengan Russell, Kareem dan Jordan di surga tertinggi bola basket. (*)

Foto: NBA

Komentar