ABL

SRIKANDI

Usai kalah di partai final NBA 2018, LeBron James mengaku kepada media mengalami cedera tangan sejak pertandingan pertama. Cedera itu, katanya, terjadi akibat memukul papan tulis. Namun, James tidak membocorkan itu ke media sebelum kekalahannya yang terakhir dengan berbagai alasan. Salah satunya agar Golden State Warriors tak mengambil keuntungan dari sana.

Jika James pernah mencederai tangannya, Michael Jordan beda cerita. Tepat pada 11 Juni 21 tahun lalu, pemain dengan enam cincin juara itu tampil dalam kondisi sakit flu. Namun, ia berhasil memenangkan gim kelima final NBA 1997 melawan Utah Jazz itu; menjadikannya salah satu pertandingan ikonik sepanjang masa.

Belakangan, pertandingan itu terkenal dengan sebutan “Flu Game”.

Scottie Pippen (kanan) memapah Michael Jordan (kiri) yang mengalami sakit flu pada gim kelima final NBA 1997. Foto: NBA

 

Flu Game

Pada final NBA 1997, Chicago Bulls tengah imbang 2-2 melawan Utah Jazz. Keduanya membutuhkan dua kemenangan lagi untuk menjadi juara. Oleh karena itu, sulit bagi mereka melewatkan satu pertandingan pun. Begitu juga bagi Michael Jordan.

Jordan, 34 tahun kala itu, menjadi pemain andalan Bulls. Ia sedang memburu gelar kelimanya di NBA, tapi flu justru mengganggunya. Kendati demikian, ia menolak mundur dari pertandingan dan tetap tampil dalam kondisi sakit di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat. Kebetulan Bulls harus melakoni laga tandang pada 11 Juni 1997 waktu setempat.  

Menurut catatan NBA.com, flu itu bahkan membuat Jordan terhuyung-huyung, dehidrasi, dan tampak kehabisan tenaga. Dalam sebuah rekaman video, ia memang tampak seperti itu—Scottie Pippen, rekannya, sampai memapahnya berjalan. Jordan tidak seperti dirinya yang biasanya kuat. Namun, ketegaran dan keinginannya untuk menang justru membuatnya tetap berdiri; mencetak 38 poin dalam kondisi sakit.

“Mungkin itu hal yang paling sulit yang pernah saya lakukan,” ujar Jordan tentang Flu Game, seperti dikutip Steve Aschburner dari NBA.com. “Saya bermain sampai hampir pingsan hanya untuk memenangkan pertandingan.”

Atas jasanya mengantarkan Bulls pada kemenangan ketiga (3-2), Kepala Pelatih Phil Jackson kala itu menyebut aksinya heroik. Itulah, katanya, yang membuat Jordan melegenda. Apalagi di tahun itu, ia berhasil mengantarkan Bulls menjuarai NBA untuk kelima kalinya.

Air Jordan 12 yang dipakai Michael Jordan di gim kelima final NBA 1997 (Flu Game) melawan Utah Jazz. Foto: Preston Truman

 

Sepatu Jordan Ratusan Ribu Dolar

Karena flu, Michael Jordan terkulai lemah beberapa jam sebelum gim kelima final NBA 1997 di sebuah ruangan di Delta Center (kini Vivint Smart Home Arena), markas Utah Jazz di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat. Ia ditemani seorang ballboy bernama Preston Truman, yang kemudian terkenal sebagai seorang beruntung karena mendapatkan sepatu Jordan yang dipakai dalam Flu Game.

“Itu adalah waktu yang tepat, tidak ada orang di sana, saya menghampirinya dan mengatakan, ‘Hey, Michael, apakah kamu akan melakukan sesuatu dengan sepatumu setelah pertandingan?’” kenang Truman mengulang percakapannya dengan Jordan, seperti dikutip David Haugh, Chicago Tribune. “Ia mengatakan, ‘Tidak, kamu menginginkannya?’ Saya katakan, ‘Saya akan senang (menerimanya).’”

Jordan tidak serta merta memberikan sepatunya kepada Truman hanya karena ia menginginkannya. Hubungan Jordan dengan Truman sebenarnya sudah terjalin sejak 1996 ketika Bulls berkunjung ke Utah. Kala itu, Sang Ballboy yang baru bekerja di tahun pertamanya, menemani Jordan di ruang ganti.

Tahun itu, Jordan meminta Truman mencarikannya saus apel untuk kue keringnya—sebuah kudapan prapertandingan kesukaannya. Namun, Bulls ternyata kehabisan saus apel, sehingga Truman harus mencarinya ke dapur.

“Jika saya tidak mendapatkan saus apel, kamu tidak akan mendapatkan tanda tangan setelah pertandingan,” ujar Jordan seperti ditirukan Truman.

Maka, Sang Ballboy lari sekencang mungkin untuk mendapatkan saus apel. Beruntung, ia menemukannya dan memberikan saus itu kepada Jordan tepat waktu. Sang pemain pun memberikan tanda tangannya seusai pertandingan sesuai janji.

Tujuh bulan kemudian, keduanya bertemu lagi. Truman menyambut Jordan dan menyiapkan kudapan kesukaannya lengkap dengan saus apel. Namun, Truman melihat Jordan tidak tampak seperti biasanya—sang pemain sedang sakit. Padahal ia akan melakoni gim kelima final NBA 1997.

Truman menjadi saksi hidup kehebatan Jordan di pertandingan tersebut. Menurut laporan pandangan matanya, sang pemain menolak ditarik keluar meski kondisinya sedang sakit. Truman berkali-kali mendengar Jordan mengatakan tidak dengan tegas ketika tim dokter memintanya istirahat.

Pertandingan berakhir, Bulls memenangkan pertandingan. Michael Jordan langsung berjalan ke ruang ganti. Begitu pun dengan Truman.

Di ruang ganti, Manajer Peralatan John Ligmanowski membenahi segalanya. Namun, Jordan memintanya untuk tidak mengambil sepatu Air Jordan 12 yang baru saja ia pakai di Flu Game.

“Tinggalkan itu. Itu untuknya,” ujar Jordan kepada Ligmanowski seperti diulang Truman.

“Ia menunjuk padaku. Dan saya seperti, wow, dia ternyata mengingatnya,” cerita Truman tentang Jordan yang memberikan sepatunya.

Sepatu itu ada di tangan Truman, dan para pemburu Air Jordan kemudian menginginkannya. Namun, Truman menolak semua penawaran. Air Jordan 12 Flu Game pun tersimpan di brankas bank Davis County selama 16 tahun sampai akhirnya ia memutuskan untuk melelang sepatu itu atas saran teman. Apalagi ia sudah punya sepatu lain pada 1998—juga dari Jordan.

Truman melelang sepatu ikonik itu di Grey Flannel Auctions. Sepatu itu mendapat 15 penawaran dan terjual seharga AS$104.765 kepada seseorang di luar negeri pada 2013. Dengan uang sebanyak itu, Truman dapat membayar utang dan membiayai sekolah anak.

Dari cerita itulah penampilan Jordan di Flu Game menjadi sangat ikonik. Karena selain pertandingannya, sang pemain legendaris mengubah apa yang ia pakai menjadi sangat berguna melebihi basket itu sendiri. Begitulah Jordan, seperti kata Thomas Hauser, seorang penulis buku biografi Muhammad Ali, sosoknya melebihi olahraga yang ia mainkan.      

Foto: NBA

Komentar