TIMNAS

Tahun lalu ketika yayasan CLS berusia 70 tahun, saat itu pula tim basket CLS Knights Surabaya menjadi juara kompetisi basket profesional tertinggi untuk pertama kalinya. Pencapaian yang istimewa untuk tim asal surabaya tersebut karena mampu mendobrak dominasi tim-tim basket Jakarta yang sudah bertahan lebih dari dua dekade.

Menjelang musim IBL 2017, sebagai juara bertahan CLS Knights tentu berambisi mempertahankan gelarnya. Di tengah ketidakpastian kapan musim IBL selanjutnya dimulai, CLS tetap berlatih secara rutin. Sementara itu tim-tim lain meliburkan pemainnya atau mengurangi porsi latihan. Memang, bagi beberapa tim IBL lain akan terasa berat untuk melakukan persiapan secara rutin di saat kejelasan liga belum ada. Karena hal itu akan membutuhkan dana operasional tambahan yang tidak sedikit.

Ketika IBL siap berjalan dan membuka keran pemain asing, CLS Knights hanya boleh men-draft satu pemain asing. Liga menganggap semua pemain naturalisasi dianggap sudah sebagai pemain asing. CLS menjatuhkan pilihan draft-nya kepada DeChriston McKinney untuk ditandemkan dengan Jamarr Andre Johnson (pemain naturalisasi).

Saat musim IBL 2017 berjalan, penampilan McKinney bisa dibilang mengecewakan. Performa di bawah ringnya tidak sesuai harapan dan terkesan tidak lebih baik dibanding center veteran dan lokal Isman Thoyib. Di sisi lain Jamarr seakan-akan “menghilang” di tengah performa pemain asing tim lain yang lebih eksplosif dibanding dirinya. Sebagai peraih Rookie Of The Year dan MVP di musim sebelumnya, Jamarr dituntut harus lebih cepat meningkatkan standar permainnya. Sementara itu secara tim, permainan CLS juga menjadi lebih lambat. Padahal di musim sebelumnya CLS bisa dibilang menjadi salah satu tim paling cepat di liga dengan transisi offense-defense atau sebaliknya yang sangat baik.

Manajemen CLS sadar, mereka harus melakukan perubahan untuk menyelamatkan tim agar asa mempertahankan gelar juara masih terjaga. Sebelum playoff, CLS mengajukan pergantian pemain asing kepada IBL. CLS ingin mendatangkan Dior Lowhorn menggantikan McKinney. Manajemen CLS melihat Dior Lowhorn dapat menjadi juru selamat bagi timnya, memang tidak berlebihan karena performanya yang memuaskan di tiga kejuaraan sebelumnya yang digelar selama IBL 2017 belum dimulai. Namun layaknya Roro Jonggrang yang menolak cinta Bandung Bondowoso, IBL menolak permintaan CLS untuk mengganti McKinney dengan Dior Lowhorn dengan segala “drama”-nya.

Walau performanya menurun, CLS terlihat seperti masih ingin mempertahankan Jamarr. Kontribusi Jamarr di musim sebelumnya mungkin menjadi salah satu alasannya. Namun statusnya yang dianggap IBL sebagai pemain asing membuat manajemen CLS seperti mengalami dilema saat itu, hingga akhirnya lebih baik memutuskan untuk mengganti kedua pemain impornya sekaligus. Keputusan tersebut membuat sebagian pecinta CLS Knights kaget dan menyayangkannya. Bahkan sebagian dari mereka mengisyaratkan untuk tidak mendukung CLS Knights lagi karena telah mengganti Jamarr. Hal ini dapat mudah dilihat dari berbagai komentar yang ada di unggahan media sosial. Mereka tampak seperti “bandwagoners” di Miami Heat yang hanya ramai mendukung tim saat ada LeBron James saja. Atau seperti pendukung Golden State Warriors saat ini yang hanya tahu warna tim itu biru-kuning dengan logo jembatannya daripada warna oranye sebelumnya dengan logo orang membawa petir.

Mario Wuysang melalui akun instgramnya dengan tersirat menanggapi hal yang tengah terjadi dengan mengisyaratkan apa yang dilakukan CLS justru membuat mereka akan memiliki level permainan yang lebih meningkat. Adalah Duke Crews dan Ashton Smith yang didatangkan CLS Knights sebagai pengganti McKinney dan Jamarr Johnson. Duke Crews adalah pemain kenyang pengalaman bermain di banyak negara. Pernah juga membela San Miguel Beermen di ajang ABL dan sempat bertemu di final melawan Mario Wuysang bersama Indonesia Warriors di final. Sedangkan Ashton Smith adalah guard yang pernah bermain di D-League NBA bersama Raptors 905.

Kontribusi instan Ashton Smith sudah terlihat di seri reguler terakhir IBL. Dua kali penampilannya memperlihatkan agresivitas dan kecepatan permainan yang memang dibutuhkan CLS Knights saat itu. Sedangkan Duke Crews baru bisa bermain saat menghadapi Garuda Bandung di playoff. Permainan Duke Crews bisa juga memuaskan karena terlihat sangat menguasai rebound saat CLS melakukan defense. Walaupun terlihat sedikit aneh saat mengeksekusi tembakan bebas, namun secara keseluruhan Duke memiliki tembakan perimeter yang sangat baik.

Sejujurnya, sulit melihat CLS Knights akan mampu melewati Garuda Bandung –saat playoff dengan permainan solidnya- tanpa kehadiran Duke Crews dan Ashton Smith. Meskipun harus menerima kekalahan terlebih dahulu di rumah sendiri saat laga pertama (kedudukan akhir 2-1). Langkah selanjutnya melawan Satria Muda adalah tugas yang tidak kalah beratnya. Sama seperti Garuda, Satria Muda tidak pernah mengganti pemain asingnya. Sehingga kerjasama antar pemain dan chemistry jauh lebih kuat. Apalagi persiapan Satria Muda tidak main-main. Mereka beruji coba melawan beberapa tim kampus di Filipina. Mungkin sebagian orang menganggap remeh ketika mendengar Satria Muda “hanya” beruji coba melawan tim kampus, padahal level permainan tim kampus asal Filipina sudah sama dengan tim profesional di Indonesia. Jadi jangan kaget ketika tim basket Indonesia kita kalah di final saat SEA Games 2015 lalu. Filipina saat itu hanya menurunkan tim yang berisi pemain-pemain kampus di sana. Memang level basket Indonesia seperti masih tertinggal satu dekade dari Filipina.

Seperti kita lihat bersama, CLS Knights disisihkan oleh Satria Muda di laga ketiga. Walau di menit-menit akhir laga ketiga CLS Knights mampu mengejar defisit angka yang sebelumnya terpaut jauh, itu semuanya sudah terlambat. Memang, momentum terbaik CLS Knights sebenarnya ada di Laga kedua. Laga itu harusnya mampu mereka menangkan, karena modal permainan di Laga pertama yang mengesankan.

Di sisi lain beberapa pemain lokal CLS Knights juga perlu disoroti. Firman Dwi Nugroho yang didatangkan dari Satya Wacana Salatiga, peraih gelar Defensive Player of the Year dan Most Improved Player IBL musim 2015-2016 seperti tidak siap bermain di playoff. Bahkan performanya juga kurang memuaskan dari awal musim. Mudah foul saat melakukan defense dan kurang agresif saat melakukan tembakan-tembakan di bawah ring. Selain itu ada Katon dan Wewe yang entah kenapa tidak bermain sebaik sebelumnya saat diberi kesempatan bermain. Mungkin juga pengaruh dari menit bermain yang berkurang.

Musim ini Mario Wuysang, Sandy Kusuma, dan Arif Hidayat adalah pemain lokal yang konsisten berkontribusi untuk tim. Ditambah Bima Riski yang hampir selalu dapat memberi lebih kepada tim baik saat menjadi starter menggantikan Sandy ataupun memulai laga dari bangku pemain cadangan.

Sebetulnya apa yang dilakukan CLS Knights musim ini sudah benar. Mereka menunjukkan bagaimana sebuah tim juara bertahan harusnya bersikap. Mengganti pemain favorit seperti Jamarr dilakukan demi ambisi besar meraih gelar juara yang kedua. Keadaan CLS Knights musim ini seperti menaiki wahana roller coaster. Sesuatu yang akan menjadi pelajaran sangat berharga untuk mengarungi musim depan.

Robbie Williams

Ada baiknya CLS Knights mendengarkan perkataan Robbie Williams lewat lagunya berjudul “Better Man”. CLS Knights harus jadi laki-laki sejati. Pria sejati bukan berarti tidak pernah membuat salah. Pria sejati mau mengakui kesalahannya dan siap memperbaiki semuanya untuk menjadi pria yang lebih baik lagi. Apapun kesalahan di musim ini yang telah terjadi harus segera dilupakan. Persiapan yang matang harus segera disusun secepatnya.

Hal utama yang mungkin harus segera dilakukan adalah segera meresmikan Dior Lowhorn untuk menjadi pemain asing CLS Knights untuk musim depan. Lowhorn akan lebih tepat untuk menggantikan Duke Crews. Tanpa menafikan performa Duke Crews yang gemilang, ada kelebihan dari Lowhorn yang dapat menjadi senjata andalan yaitu dia dapat menjadi penembak tiga angka. Mirip seperti Chris Ware di Garuda Bandung. Dan yang paling penting Lowhorn tidak seperti Duke yang memiliki kelemahan dimana dia sering terpancing emosi dan melakukan banyak protes kepada wasit saat pertandingan, karena itu juga dapat merugikan CLS Knights. Apalagi CLS Knights sudah berani mengucapkan ucapan selamat ulang tahun kepada Lowhorn di akun instagramnya. Kode-kode di dunia maya khas generasi milenial saat ini. Walau menggaet Lowhorn musim depan tetap harus melewati mekanisme draft.

Menarik menunggu apa yang benar-benar dilakukan CLS Knights untuk IBL musim depan. Bisa jadi bukan hanya sektor pemain asing saja yang diganti tapi juga komposisi pemain lokalnya. Karena selain Lowhorn, ada juga Tyrell corbin dan Mei Joni yang menjadi kawan latih tanding saat CLS Knights melakukan persiapan untuk playoff. Sebagian orang menyebut latih tanding, namun sebagian orang juga bisa menyebut itu seleksi pemain baru.

As my soul heals the shame. I will grow through this pain. Lord, I'm doing all I can, to be a better man.

Jadi CLS Knights, mungkin ada baiknya mendengarkan kata-kata Robbie Williams di atas.(*)

Foto: Hari Purwanto.

Komentar