Harga Mahal Mewakili Indonesia

| Penulis : 

Membawa nama Indonesia di level internasional bukanlah hal mudah. Tidak juga murah. Ada banyak hal yang harus diupayakan, banyak tenaga yang dicurahkan, banyak emosi yang dikeluarkan. Setidaknya itu yang kita lihat dari perwakilan Indonesia di Basketball Champions League (BCL) Asia - East.

Ya, unggahan ini tentu mengacu dari rilis resmi Dewa United Banten yang mengutarakan situasi mereka mengenai jadwal bertanding di IBL. Sebagai juara IBL 2025, Dewa United memang berhak mewakili Indonesia di BCL Asia - East. 

Kepala Pelatih Dewa United, Agusti Julbe menyampaikan, “Saya ingin menyampaikan sesuatu, bukan hanya atas nama pribadi, tetapi juga mewakili manajemen kami. Saya rasa pertandingan ini tidak bisa diterima, baik dari sisi RANS maupun IBL,” ujar coach Julbe dalam konferensi pers usai laga melawan RANS Simba Bogor, Senin (20/4).

“Kami sudah meminta penundaan dan mencoba mencari tanggal yang lebih baik. Kami bahkan mengusulkan untuk bermain pada 22 April, hari Rabu, yang merupakan hari pertandingan normal di IBL,” jelasnya. 

“Pertandingan mereka (RANS melawan Tangerang Hawks) sebelumnya dijadwalkan kemarin (hari Minggu), tetapi IBL mengizinkan untuk memajukannya ke hari Sabtu. Artinya mereka tidak jadi bermain back-to-back dan punya waktu recovery lebih,” tambahnya.

Secara garis besar, Dewa United mengajukan perubahan jadwal karena mereka baru selesai dari bertanding di BCL dan ditolak oleh IBL. Sedangkan RANS, mengajukan hal yang sama dan sebaliknya mereka mendapatkan yang mereka minta. 

Dewa United total bermain 6 gim dalam 11 hari. Sesuatu yang memang terlihat brutal, tapi juga lumrah. Musim lalu, Pelita Jaya Jakarta ada di posisi Dewa United, mewakili Indonesia di BCL Asia - East. Pada bulan Mei 2025, Pelita Jaya tampil 4 kali di kurun 7 hari. Mereka bermain di Bogor (markas RANS), Mongolia, dan PJ Arena. 

Sebelumnya, di April, Pelita Jaya total bermain 8 kali di 25 hari kalender. Sebanyak 5 laga digelar di PJ Arena, satu gim tandang ke Cina Taipei, satu gim di Bali, dan satu gim di Surabaya. Mereka bermain dua kali back-to-back (dua gim di dua hari beruntun) dalam periode ini. 

Sejatinya, manajemen Pelita Jaya, termasuk kepala pelatih kala itu, Justin Tatum, juga mengeluhkan hal yang sama dengan Julbe musim ini. Tidak ada penyesuaian dari liga yang mereka wakili. Namun, Pelita Jaya coba menemukan jalan mereka sendiri dengan mendatangkan Chris McCullough sebagai pemain asing khusus BCL saja. Anthony Beane pun tidak berlaga di BCL, hanya IBL. 

Kembali ke awal pembahasan, ini adalah bukti nyata tidak mudahnya mewakili basket Indonesia di luar negeri. Modalnya jelas besar. Kalau mau bersaing sembari tetap memperebutkan posisi terbaik di liga domestik, maka harus sedia pemain tambahan khusus yang terasa seperti pemain rental (pinjaman). Bertambah lagi modalnya. Ini kita baru sekadar membahas tambahan pemain. Belim akomodasi dan segala yang mengikuti. 

Kami tentu tidak memandang sebelah mata kekuatan finansial Dewa United. Namun, secara pandangan bisnis, penggunaan pemain rental ini tentu bukan pilihan yang bijaksana. Paling bijaksana ya memang berharap kebijaksanaan dari pihak yang diwakilkan. Mereka tidak serta-merta datang sebagai wakil klub Indonesia. Mereka adalah juara liga profesional Indonesia, IBL. 

Wajar kiranya Julbe dan manajemen Dewa United meminta sedikit pengertian dari liga. Wajar juga liga menolak jika memang aturan itu sangat dipegang kukuh. Bukan aturan diterapkan berbeda kepada tim yang berbeda. Akhirnya, wajar pula Dewa United melayangkan sedikit protes atau keluh kesah mereka. 

Sulitnya jadi tim profesional di Indonesia. Mau bersaing untuk gelar juara, modalnya harus besar, demi mendapatkan pemain-pemain terbaik. Kalau sudah jadi yang teratas, modalnya harus ditambah lagi. Bukan sekadar untuk mempertahankan gelar, tapi juga bersaing di kompetisi yang lebih tinggi, tanpa bantuan, tanpa pengertian dari yang diwakili. 

Semoga ungkapan Dewa United ini bisa jadi pertimbangan bagaimana IBL menata jadwal mereka musim depan. Sang juara bertahan, selayaknya mendapatkan pengertian. Mereka tidak datang atas nama sendiri, melainkan membawa nama liga serta negara. Semoga juara-juara selanjutnya bisa lebih tenang untuk memperjuangkan basket Indonesia. Semoga. 

Foto: BCL Asia - East

Populer

Wembanyama Gegar Otak, Trail Blazers Samakan Kedudukan
Jaxon Hayes Resmi Jadi Pemain Naturalisasi Slovenia
LeBron Pimpin Lakers Unggul 2-0 Atas Rockets
Raptors 0-2 dari Cavs, Brandon Ingram Dapat Kritik Keras
Lakers Mewaspadai Pembalasan Kevin Durant di Gim 3
SGA Menangi Penghargaan Clutch Player of the Year NBA 2025-2026
Victor Wembanyama Jadi Pemain Bertahan Terbaik Secara Mutlak
Luka Doncic Scoring Elite, MVP Sulit
Edgecombe dan Maxey Picu Kembangkitan 76ers di Gim 2
Berburu Pelatih, Taylor Jenkins Jadi Nama Pertama yang Dihubungi Pemilik Bucks