Chris Paul mengalami berbagai situasi selama 21 tahun bermain di NBA dalam tujuh tim. Dari perjalanan panjang itu, CP3 menemukan satu kunci untuk tetap bertahan di tengah persaingan elite yakni kemampuan untuk beradaptasi.
CP3 baru saja pensiun dari NBA pada Februari lalu. Dalam wawancara di Build or Break bersama Daniel Lubetzky, CP3 berbicara mengenai pengalamannya berpindah-pindah tim selama lebih dari dua dekade di NBA.
“Gila juga kalau kamu mengatakan itu karena selama ini saya memang sudah menjalaninya. Jadi, saya tahu bagaimana menghadapi situasi apa pun. Saya sudah berada di begitu banyak ruang ganti dan bermain untuk begitu banyak tim selama lebih dari 20 tahun,” kata CP3.
Baca juga: Chris Paul Kembali Ungkap Luka Lama dari Clippers
Awal karier pemain berjuluk The Point God itu setelah terpilih sebagai No. 4 NBA Draft 2005 oleh New Orleans Hornets. Setelah enam musim pertama di New Orleans, CP3 memperkuat Los Angeles Clippers yang dikenal dalam era Lob City pada 2011-2017.
Karier CP3 berlanjut ke Houston Rockets, Oklahoma City Thunder, Phoenix Suns, Golden State Warriors, hingga San Antonio Spurs. CP3 semula berencana menutup karier dengan kembali ke Clippers pada musim lalu. Namun, rencana itu tidak berjalan sesuai harapan.
Terlepas dari penutupan karier yang menyakitkan, CP3 tetap menjadi pemain legendaris. Dalam penuturannya, kemampuan beradaptasinya berkembang seiring perubahan peran di lapangan. Ia tidak lagi menjadi pemain yang sama ketika masuk NBA.
Baca juga: Chris Paul Ungkap Penyebab Tim Super Kerap Gagal Juara NBA
“Saya masih ingat ketika dulu saya menjadi pemain tercepat di tim dan bisa berlari dari satu sisi lapangan ke sisi lainnya. Tapi permainan saya berubah. Permainan saya berkembang, rekan-rekan setim berubah, kepribadian orang-orang juga berubah, begitu pula kebutuhan setiap tim,” ujarnya.
CP3 mencontohkan pengalaman saat bermain untuk Suns pada 2020-2023. Ia lebih banyak berperan sebagai pengatur serangan dan membantu memaksimalkan kemampuan Devin Booker, Mikal Bridges, dan Deandre Ayton. Namun, CP3 tetap harus siap mengambil peran sebagai pencetak angka ketika tim membutuhkannya.
Pengalaman berbeda dirasakan CP3 ketika memperkuat San Antonio Spurs. Ia hanya bermain satu musim di San Antonio. CP3 merasakan berada di ruang ganti yang didominasi pemain muda. Termasuk Victor Wembanyama.
Bagi CP3, kemampuan beradaptasi tidak hanya penting dalam basket. Prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan maupun dunia bisnis. Setiap lingkungan memiliki karakter dan kebutuhan berbeda sehingga seseorang harus mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya. (rag)
Foto: NBA