Sejak NBA memutuskan hiatus pada 11 Maret 2020 lalu, pertanyaan yang terus beredar di masyarakat adalah mengenai kelanjutan musim 2019-2020. Kapan kembali dilanjutkan, di mana dilanjutkan, bagaimana prosedur yang tepat untuk melanjutkan musim, atau bagaimana juga format yang baik untuk melanjutkan musim ini.

NBA sendiri tampak sangat sulit mengambil keputusan. Komisaris NBA, Adam Silver, yang biasanya lugas dan tanggap dalam menghadapi permasalahan pun tampak sangat ragu. Namun, layaknya semua pihak harus tahu bahwa NBA tidak hanya berhadapan dengan kebingungan melawan virus korona, mereka juga berhadapan dengan potensi kerugian yang sangat-sangat besar.

Dilansir oleh The Athletic, jika NBA tidak melanjutkan musim 2019-2020, maka potensi kerugian mereka bisa mencapai AS$1–2 milyar. Kerugian yang dimaksud di sini adalah kerugian yang berhubungan dengan pendapatan penggelaran sebuah pertandingan basket saja atau disebut Basketball Related Income (BRI). Dua faktor utama BRI adalah tiket dan hak siar televisi, dua hal yang sudah absen dalam lebih dari dua bulan terakhir.

Dari jumlah tersebut, penyumbang potensi kerugian terbesar terjadi jika NBA tidak menggelar laga playoff. Ya, semua rangkaian playoff NBA bernilai kurang lebih AS$900 juta secara hak siar televisi nasional Amerika Serikat. Jika NBA tidak melanjutkan gim di sisa musim reguler, kerugian juga akan mendatangi tim-tim NBA. Perlu diketahui, setiap tim NBA menjalin kerja sama terpisah terkait hak siar dengan televisi lokal mereka.

Kabar lebih buruknya lagi adalah BRI berguna untuk menentukan ruang gaji musiman NBA. Proyeksi ruang gaji untuk musim 2020-2021 sendiri (sebelum pandemi) adalah AS$115 juta, naik sekitar AS$6 juta dari musim ini. Angka AS$115 juta sendiri sudah dikurangi dengan potensi kerugian akibat komentar buruk manajer Houston Rockets, Darryl Morey, yang membuat beberapa kerja sama NBA dengan Cina hangus.

Angka tersebut bisa terwujud andai BRI NBA mencapai AS$8 milyar. Dengan potensi kerugian mereka mencapai AS$2 milyar, maka BRI NBA terendah ada di angka AS$6 milyar. Kondisi ini membuat ruang gaji proyeksi NBA untuk musim 2020-2021 justru turun dari musim ini menjadi AS$95 juta. Secara batas maksimal pajak (luxury tax) pun, NBA akan mengalami penurunan jauh dari proyeksi AS$139 juta menjadi AS$115 juta.

Jika kemungkinan terburuk terjadi, maka 25 dari 30 tim NBA akan melewati batas maksimal pajak dan harus membayar luxury tax. Jumlah ini akan menjadi yang tertinggi dalam sepanjang sejarah NBA. Di sisi lain, tim dengan kemungkinan pembayaran luxury tax terbesar adalah Golden State Warriors.

Dengan satu pemain dalam kontrak supermaksimal dan tiga lainnya di kontrak maksimal, Warriors diproyeksikan akan membayar luxury tax sebesar AS$45 juta dengan proyeksi sebelum pandemi. Jika proyeksi setelah pandemi, maka luxury tax yang harus dibayar Warriors bisa mencapai AS$160 juta, hampir dua kali lipat dari ruang gaji pandemi.

Setiap langkah yang diambil oleh NBA akan melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Oleh sebab itu, segenap jajaran manajemen NBA akan berusaha mencari jalan terbaik untuk semua pihak. Akan tetapi, dengan potensi kerugian sebesar ini, rasanya peluang NBA untuk berlanjut lagi justru semakin besar dengan segala perubahan aturan. (DRMK)

Foto: NBA

 

Populer

Diduga Memiliki Ganja, Deandre Ayton Ditahan di Bahama
Lima Sepatu Terbaik di NBA All-Star Game 2026 Pilihan Footwear News 
Mike Conley Kembali ke Minnesota
Selesai Sudah! Kyrie Irving Tidak Akan Bermain Musim Ini
Donovan Mitchell Merasa Nyaman Berdampingan Dengan James Harden
Alasan Nikola Jokic dan Luka Doncic Hanya Tampil "Sebentar" di NBA All-Star Game
Cade Cunningham Bangga Pistons Melesat Drastis Musim Ini
76ers Rela Bayar Kompensasi Untuk Kembalikan Cameron Payne ke NBA
Format NBA All-Star 2026 Menjanjikan, Rating Tertinggi Dalam 15 Tahun
Hornbills Membara! 17 Tripoin Meluluhlantakkan Dewa United!