Setiap tahun, sejak lebih dari sedekade ke belakang, Surabaya menampung kurang-lebih 150 pemain SMA putra dan 150 pemain SMA putri terbaik dari seluruh Indonesia. Mereka adalah lima pemain putra dan lima pemain putri terbaik (First Team) dari 30 kota penyelenggaraan Honda DBL di tahun itu. Di Surabaya, mereka bersatu mengikuti DBL Camp (kamp) selama 3, 4, sampai 5 hari.

Mencari lima pemain terbaik dari setiap kota DBL tidak mudah. Jadi sangat mungkin, banyak potensi-potensi hebat yang bisa jadi terlewatkan oleh berbagai macam faktor. Di akhir kamp DBL, hanya ada 12 pemain putra dan 12 pemain putri yang terpilih sebagai skuat DBL All Star yang kemudian berhak pergi ke Amerika Serikat untuk berlibur dan berlatih. Sisanya, kembali ke daerah asal masing-masing.

Pertanyaannya, ke mana perginya 150 pemain putra dan putri berbakat yang muncul setiap tahun ini sekarang? Khusus untuk 150 pemain putra berbakat yang selalu muncul setiap tahun dalam 10 tahun terakhir, mengapa hanya sebegitu saja sisanya yang muncul di liga basket tertinggi kita IBL? Ke mana mayoritas sisanya pergi?

Bila saja, setelah DBL ada kompetisi yang lebih menarik untuk mereka ikuti atau kejar, maka sangat mungkin setiap tahun kita punya ratusan bakat baru yang siap rebutan untuk main di IBL. Saat itu, sistem draft ideal yang diimpikan IBL rasanya mulai bisa terwujud.

Foto: ABL

Populer

Empat Kandidat MVP NBA 2026 Terancam Syarat Minimal 65 Gim
Deretan Rumah Mewah Pemain NBA, LeBron James Termahal
Spurs dan Pistons Jadi Favorit Untuk Tampil di Final NBA 2026
Byron Scott Tidak Yakin Lakers Bisa Juara Pada Musim Ini
Hornets Gunakan Program AI Sebelum Memilih Kon Knueppel Pada Malam Draft
LeBron James Menjagokan Jaylen Brown Sebagai MVP NBA 2026
Knicks Sulit Mendominasi, Karl-Anthony Towns Terima Kritik
Kings Akhiri Rekor Kekalahan Terburuk Dalam Sejarah Klub
Pat Riley Mengenang Era "Big Three" Miami Heat
Tiga Merek Makin Dekat Dengan Curry, Anta Salah Satunya