Walikota New York Zohran Mamdani menjadi perbincangan setelah menyampaikan pidato dalam perayaan Knicks sebagai juara NBA 2025-2026. Pidato di City Hall Plaza tersebut dinilai sebagai salah satu yang terbaik yang disampaikan politisi dalam konteks acara olahraga.
New York mengadakan parade juara pada Kamis (18/6) waktu setempat. Jutaan warga Big Apple tumpah ruah di jalanan Manhattan untuk menyaksikan Knicks memamerkan trofi Larry O’Brien. Ini menjadi pertama kalinya New York melakukan ticker tape untuk merayakan gelar NBA.
Di sela-sela euforia tersebut, pidato Mamdani menyita perhatian. Walikota Muslim pertama New York itu menyampaikan pidato yang emosional, mendalam, dan menunjukkan pemahaman yang luar biasa terhadap sejarah serta budaya Knicks.
“Knicks tidak hanya menang untuk kota New York. Mereka menang seperti kota New York. Apa artinya New York kalau bukan hidup dengan keadaan terdesak? Sebuah mimpi yang terasa selalu sedikit di luar jangkauan,” ucap Mamdani.
Baca juga: Penggemar Knicks Tumpah Ruah Dalam Parade Juara di New York
Mamdani tidak hanya menyampaikan pujian terhadap kerja keras pemain dan staf Knicks. Ia juga menggambarkan perjalanan dan penantian panjang Knicks yang telah menjadi bagian dari kehidupan New York.
Pidato tersebut juga tampak berbeda dari hal pidato kemenangan olahraga pada umumnya. Mamdani memberikan penghormatan kepada para pemain dan pelatih yang pernah membantu Knicks meski mereka kini mereka tidak lagi berada dalam tim.
Mamdani secara khusus menyebut mantan-mantan pemain dan pelatih Knicks seperti Julius Randle, Donte DiVincenzo, hingga Tom Thibodeau. Juga para legenda yang pernah membela Knicks di era sebelumnya. Mereka dinilai berkontribusi dalam perjalanan Knicks meraih gelar lagi setelah 53 tahun.
Baca juga: Jalen Brunson Membalas Kritik Saat Parade Juara Knicks
“Saya ingin memberikan penghormatan kepada mereka yang telah membangun fondasi tim ini. Kepada para pemain yang mungkin tidak lagi berada di sini tapi tetap menjadi bagian dari cerita ini. Gelar ini bukan hanya milik mereka yang mengangkat trofi. Tetapi juga milik mereka yang membangun jalan menuju ke sana,” kata Mamdani.
Ada yang menganggap pidato 10 menit Mamdani terlalu panjang. Tapi pidato Mamdani memiliki pendekatan tentang bagaimana sebuah tim juara dibangun. Ia berhasil menangkap emosi kolektif pada pendukung Knicks dari generasi ke generasi yang tumbuh dalam setengah abad ini.
Mamdani menggambarkan pengalaman pendukung Knicks dari berbagai penjuru kota. Mulai dari mereka yang menonton pertandingan di balik jendela toko, bar, hingga apartemen kecil. Gambaran itu terasa sebagai penghormatan kepada penggemar yang menunggu selama 53 tahun untuk melihat Knicks juara lagi. (rag)
Foto: Angelina Katsanis/AFP