Ini adalah berita yang mengejutkan, di mana Charlotte Hornets dilaporkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu memandu keputusan mereka dalam memilih Kon Knueppel di urutan keempat dalam Draft NBA 2025. Meskipun metode pencarian bakat tradisional tetap menjadi inti evaluasi manajemen tim, waralaba ini menggabungkan platform analitik berbasis AI ke dalam proses draft-nya.

Selain peningkatan performa mereka yang drastis musim ini, salah satu cerita terbesar bagi Charlotte Hornets adalah pemain rookie Kon Knueppel. Ia tampil sangat baik di tahun pertamanya di liga profesional sehingga beberapa orang sudah mulai membayangkan kemungkinan ia menunjukkan kemampuannya di panggung yang lebih besar.

Keahlian utama Knueppel saat keluar dari Duke adalah tembakan tripoinnya, tetapi ia telah membuktikan dirinya jauh lebih dari sekadar ancaman dari luar garis tiga poin. Meskipun ia memimpin liga dalam jumlah tembakan tiga poin yang berhasil, ia juga rata-rata mencetak 19,2 poin, 5,5 rebound, dan 3,5 asis per gim. Dalam 57 pertandingan pertamanya, Knueppel mencetak 43,5 persen tembakan dari luar garis tiga poin dengan delapan percobaan per pertandingan.

Namun sebelum semua hal luar biasa yang telah dilakukannya di NBA musim ini, muncul cerita menarik di balik pemilihan Knueppe. Menurut seorang eksekutif Hornets, organisasi tersebut bekerja sama dengan Invisible Technologies menjelang draft. Teknologi tersebut digunakan untuk memvalidasi Knueppel sebagai target prioritas sebelum Hornets membuat pilihan mereka.

Perusahaan tersebut memberikan wawasan pencarian bakat yang terperinci melalui platform visi komputer yang dirancang untuk mengevaluasi kinerja pemain. Wakil Presiden Wawasan dan Analisis Bola Basket Charlotte, Patrick Harrell, mengatakan kolaborasi tersebut membantu membentuk strategi draft tim.

"Dalam beberapa minggu, Invisible memberi kami strategi draf AI yang memberi kami Kon Knueppel, pilihan keseluruhan nomor empat oleh Charlotte Hornets dalam draf NBA 2025," kata Harrell.

Meskipun Knueppel secara luas diproyeksikan sebagai pilihan lotere tinggi, performa awalnya di NBA telah mendukung baik pengamatan tradisional maupun evaluasi berbasis AI dari Hornets. Pemain berusia 20 tahun ini telah muncul sebagai salah satu rookie terbaik di liga.

Terlepas apakah ia akhirnya meraih penghargaan Rookie of the Year atau tidak, penggunaan kecerdasan buatan oleh Hornets dalam proses draft tampaknya telah memberikan hasil langsung di lapangan. (tor)

Foto: Getty Images

Populer

Komentar Shai Gilgeous-Alexander Usai Thunder Kalah Telak di Gim 4
Spurs Bangkit di Gim 4 Setelah Gregg Popovich Ngamuk di Ruang Ganti
Tidak Masuk All-NBA Musim Ini, Rekor 21 Tahun LeBron James Terputus
Masuk All-NBA Second Team Lagi, Jaylen Brown Tetap Bersyukur
Olympiacos Juara EuroLeague Setelah 13 Tahun, Evan Fournier Jadi MVP Final Four
Spurs Tingkatkan Pertahanan Untuk Menyamakan Kedudukan Dengan Thunder
SGA dan Wembanyama Memimpin All-NBA Tahun Ini
Donovan Mitchell Tidak Kaget Rocket Arena Dikuasai Penggemar Knicks
Cavaliers Hanya Punya Satu Peluang, James Harden Menolak Menyerah
Ditukar Sixers di Tengah Musim, Sekarang Jared McCain Malah Bersyukur