Austin Reaves menunjukkan komitmennya terhadap Los Angeles Lakers. Reaves juga membuktikan bahwa ambisi meraih gelar juara terkadang lebih besar daripada sekadar mengejar angka dalam kontrak. Reaves rela memangkas nilai kontrak demi fleksibilitas Lakers menyusun roster.
Reaves sebelumnya dikabarkan akan menerima kontrak empat tahun senilai 185 juta Dolar AS. Angka tersebut menjadikannya pemain undrafted termahal dalam sejarah NBA. Namun, nilai kontrak itu ternyata berbeda dari kesepakatan final.
Berdasarkan berbagai laporan media-media Amerika Serikat, Reaves memberi potongan 5 juta Dolar AS. Pengurangan tersebut memberi Lakers tambahan fleksibilitas dalam mengatur struktur gaji mereka untuk musim-musim mendatang.
Baca juga: Austin Reaves Siap untuk Era Baru Lakers
Bagi sebuah tim yang ingin bersaing di level tertinggi, selisih beberapa juta dolar dapat menentukan apakah mereka mampu menambah pemain berkualitas atau tidak. Pengorbanan Reaves membuka peluang bagi Lakers untuk memiliki lebih banyak opsi ketika melakukan pergerakan roster.
Langkah ini dianggap penting karena Lakers sedang berada dalam fase membangun tim di sekitar Luka Doncic. Dengan aturan batas gaji NBA yang semakin ketat, setiap penghematan dapat memberikan dampak besar. Terutama dalam upaya mendatangkan pemain tambahan melalui jalur seperti non-taxpayer mid-level exception pada musim berikutnya.
Baca juga: Walker Kessler Siap Memberikan Segalanya untuk Lakers
Sejak bergabung dengan Lakers pada 2021, Reaves berkembang menjadi salah satu pemain utama tim. Perkembangannya dari pemain yang tidak terpilih NBA Draft, kini menjadi bagian penting dari rencana jangka panjang Lakers.
Reaves mencatat performa terbaik dalam kariernya dengan rata-rata 23,3 poin, 4,7 rebound, dan 5,5 assist per pertandingan dalam 51 laga pada musim lalu. Statistik tersebut memperkuat alasan Lakers mempertahankannya sebagai salah satu fondasi masa depan.
Reaves sebelumnya menyatakan bahwa lingkungan Lakers, hubungan dengan rekan setim, serta ambisi untuk menang menjadi alasan utama dirinya ingin tetap berada di Los Angeles.
“Orang-orang yang ada di organisasi ini, bagaimana cara mereka menjalankan semuanya, serta staf kepelatihannya adalah alasan yang besar. Saya merasa kami memiliki banyak kesamaan dalam cara berpikir, dan saya rasa mentalitas kompetitif mereka adalah salah satu alasan terbesar,” ungkap Reaves. (rag)
Foto: Melina Pizano/AFP