Selamat datang tahun 2026! Selain menandai pergantian tahun, ini juga menjadi tanda NBA akan memasuki babak baru. Ini sudah bulan ketiga NBA 2025-2026 digelar, situasi tim-tim sudah mulai terlihat. Siapa yang akan melaju jauh, siapa yang masih punya pilihan, siapa yang akan terus di dasar klasemen sampai akhir.
Selain situasi tim-tm, persaingan untuk beberapa kategori pemain juga semakin terlihat. Nama-nama familiar seperti Shai Glgeous-Alexander, Nikola Jokic, masih jadi kontestan utama untuk pemain terbaik NBA. Sedangkan Cade Cunningham hingga Victor Wembanyama bisa jadi dua nama baru di daftar ini.
Tak sekadar persaingan para veteran, gelar individu untuk barisan muka baru, pemain tahun pertama, ruki terbaik juga memanas. Sempat kesulitan di awal musim, pilihan pertama NBA Draft 2025, Cooper Flagg, mulai menemukan sentuhannya. Flagg menyalip rekan setimnya di kampus, Kon Knueppel yang sebelumnya memimpin daftar ini dengan nyaman.
Atas peningkatan performa yang solid ini, saya ingin membahas lebih dalam mengenai Cooper Flagg. Flagg menurut saya benar-benar beruntung sebagai pemain. Seperti judul artikel ini, Flagg ada di waktu dan tempat yang tepat untuk tumbuh. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk pilihan pertama NBA Draft dengan paket ketangkasan yang ia punya selain Dallas Mavericks.
Saya akan bahas mengapa Mavericks adalah waktu dan tempat yang tepat untuk Flagg dari berbagai aspek. Pertama tentu roster. Terlepas dari segala teori konspirasi yang muncul seiring Mavericks yang dapat pilihan pertama lotre NBA Draft 2025 setelah menukar Luka Doncic ke Los Angeles Lakers. Hak pilih nomor satu terlepas Mavericks bukanlah tim dengan rekor terburuk baik di liga ataupun di Wilayah Barat bak diyakini sebagai aksi balas budi NBA kepada Mavericks.
Saat kita mengesampingkan teori konspirasi tersebut, Flagg selayaknya bersyukur bahwa Mavericks memilihnya. Mavericks, tim yang lolos ke Final NBA 2024, memutuskan untuk mengubah haluan organisasi mereka dan Flagg muncul di sana. Memang ada nama veteran solid seperti Kyrie Irving dan Anthony Davis. Akan tetapi, data yang menunjukkan sulitnya ketersediaan dua bintang ini membuat Flagg akan mendapatkan porsi peran yang masif. Belum lagi, Flagg adalah pemain modern yang sulit didefiniskan posisinya secara spesifik. Ia bisa bermain dengan berbagai cara.
Pun demikian, kehadiran Irving dan Davis di tim masih sangat krusial untuk Flagg. Mengapa demikian? Ketiga pemain ini memiliki satu kesamaan. Sama-sama pemain pilihan pertama NBA Draft. Davis dan Irving sama-sama masuk ke NBA dengan ekspektasi tinggi dan menjawab dengan sempurna. Keduanya menutup musim perdana sebagai ruki terbaik.
Terlepas tentang ketangkasan di lapagan, menjaga mental untuk tetap kuat dan lapar di tengah ekspektasi tinggi publik sangatlah krusial untuk Flagg. Rasanya, Irving dan Davis yang sudah merasakan hampir semua gelar di NBA (kecuali MVP liga dan Finl), akan menjadi mentor yang bijaksana untuk mengarahkan Flagg di jalur yang benar.
Bicara jalur yang benar, saya yakin kita semua sepakat bahwa pemain seperti Flagg ini memiliki "ceiling" yang sangat tinggi. Kita tidak bisa benar-benar memprediksi akan sampai mana perjalanan karier Flagg. All Star rasanya sudah jelas. Namun, apakah ia bisa melebihi itu? Apakah ia bisa menjadi pemain terbaik di liga? Apakah ia sanggup menjadi talenta utama di generasi ini?
Untuk menjawab ini, ada peran penting sosok kepala pelatih Mavericks, Jason Kidd. Ya, saya menaruh harapan dan kepercayaan tinggi kepada Kidd untuk membentuk Flagg menjadi versi terbaik dirinya sebagai pemain. Alasannya sederhana, Giannis Antetokounmpo.
Memang, dua gelar MVP yang Giannis dapatkan terjadi saat Mike Budenholzer menjadi kepala pelatih Milwaukee Bucks. Lebih lagi, Giannis jadi MVP seteah Kidd keluar dari Bucks. Namun, gelar Most Improved Player yang Giannis dapatkan terwujud bersama Kidd. Pada waktu yang sama, Giannis untuk kali pertama terpilih sebagai All Star.
Semusim sebelum dua pencapaian (MIP dan All Star) tersebut, Kidd membuat sebuah eksperimen besar. Giannis yang belum berotot seperti sekarang, masih panjang dan cenderung kurus, tanpa keahlian yang spesifik, ia alih fungsikan menjadi pembawa bola utama (point guard).
Statistik menunjukkan, 40 persen menit bermain Giannis di musim 2015-20166 ia mainkan sebagai point guard. Lebih lagi, 59 persen ia bermain sebagai shooting guard. Sisa satu persen lainnya ia berperan sebagai small forward. Tidak sekalipun Giannis bermain sebagai senter di empat musim pertamanya di NBA.
Menurut saya, periode waktu ini sangat mengubah bagaimana Giannis melihat pertandingan. Setelah eksperimen menjadi point guard tersebut, rataan asis Giannis terus meningkat dan membuatnya menjadi salah satu pemain terbaik di liga atau bahkan yang pernah ada. Tentunya juga karena peningkatan fisik yang sangat signifikan dari Giannis juga.
Ini yang saya lihat coba dilakukan oleh Kidd kepada Flagg. Meski akhirnya mendapatkan banyak penolakan dari penggemar dan pengamat basket secara general, saya rasa Kidd dalam situasi tak leluasa untuk melakukan eksperimen ini. Alhasil, Kidd memasukkan Ryan Nembhard atau Brandon Williams sebagai pendamping Flagg. Namun, pada praktiknya, dua pemain ini lebih berfungsi sebagai eksekutor ruang-ruang tembak yang dibuat oleh Flagg.
Sejauh ini, Flagg menunjukkan data yang sangat mirip dengan Giannis. Tripoin yang belum tajam (di bawah 30 persen), rataan asis di atas 4,0 per gim, dengan eFG% masih di rata-rata liga, menunjukkan bagaimana berbahanya Flagg meski akurasi tripoinnya masih jelek. Jika ia bisa meningkatkan akurasi tripoinnya, paling tidak di angka 34-36 persen, maka Flagg akan menjadi semakin tak terhentikan.
Meski mirip, Flagg menurut saya punya keunggulan ketimbang Giannis. Pada musim pertamanya, Giannis hanya memiliki rataan tidak sampai 7 poin per gim. Flagg sampai sekarang sudah 19,4 poin per gim. Sekali lagi, faktor ketangkasan, ditambah waktu dan lingkungan yang tepat membuat Flagg akan menjalani musim perdana yang brilian.
Tantangan terbesarnya kini adalah bagaimana menjaga rasa lapar Flagg sampai musim-musim selanjutnya. Bagaimana Flagg dan Mavericks (yang harusnya tidak akan menukar Flagg seperti mereka menukar Doncic), menemukan langkah-langkah yang tepat untuk mengembangkan kemampuan individunya. Selamat datang di NBA Coper Flagg!
Foto: NBA